"Jika saya tidak berdiri untuk mereka yang hidup dalam bayangan gelap, menjadi suara dari mereka yang tidak bersuara... pemerintah, serta masyarakat tidak akan pernah tahu apa yang terjadi," tutur Shandra kepada AFP, Senin (3/2/2014).
Shandra bahkan sempat membantu aparat keamanan setempat untuk membekuk sedikitnya satu sindikat yang bertanggung jawab atas kasusnya. Kini, Shandra gencar menjadi pembicara di sejumlah forum-forum dunia dengan tujuan agar tidak ada lagi wanita yang menjadi korban perdagangan manusia seperti dirinya.
"Saya harap saya bisa melakukan lebih banyak hal untuk membantu mereka (aparat) dalam mengidentifikasi para korban ... karena saya sakit dengan koneksi yang saya miliki, dengan kita semua bersatu bersama, kita bisa memerangi perbudakan pada masa modern ini," tegas wanita yang kini berusia 36 tahun ini.
Shandra sempat terdiam dan hidup dalam kesunyian selama beberapa tahun sebelum akhirnya dia memutuskan diri bergabung dengan gerakan anti-perdagangan manusia. Shandra kini bergabung dengan Survivors of Slavery, sebuah organisasi kemanusiaan di AS yang bertujuan memerangi perbudakan.
Menurut survivorsofslavery.org, dia merupakan salah satu pembicara dari sejumlah pembicara lainnya yang sama-sama pernah menjadi korban perbudakan dan perdagangan manusia. Kini, Shandra dikenal sebagai pembicara inspirasional yang memiliki misi untuk meningkatkan kewaspadaan dan mendidik masyarakat, melalui pengalamannya sebagai korban selamat dalam kasus perdagangan seks dan kekerasan domestik.
Shandra banyak berbicara dalam banyak organisasi lintas keyakinan, maupun dalam kalangan medis hingga legislator di AS. Dia bahkan bekerja sama dengan organisasi advokat anti-perdagangan manusia dan juga menjadi ahli perunding legislatif di Washington DC, AS.
Pada tahun 2011 lalu, Shandra mendirikan organisasi kepemimpinan bagi korban selamat yang diberi nama "Voices of Hope" melalui Safe Horizon yang menyelamatkannya. Tidak hanya itu, demi memastikan bahwa orang-orang di Indonesia tidak jatuh ke jebakan yang sama seperti dirinya, Shandra membuat halaman Facebook bernama "Stop Human Trafficking di Indonesia".
Seperti para korban selamat lainnya di Survivors of Slavery, Shandra mendedikasikan hidupnya untuk memastikan kebebasan dari kekerasan dan penyekapan bagi orang-orang seperti dirinya.
(nvc/ita)











































