Jadi Budak Seks di AS, Shandra Dijual ke Germo Asal Malaysia Hingga Taiwan

Jadi Budak Seks di AS, Shandra Dijual ke Germo Asal Malaysia Hingga Taiwan

Ahmad Toriq - detikNews
Senin, 03 Feb 2014 09:05 WIB
Jadi Budak Seks di AS, Shandra Dijual ke Germo Asal Malaysia Hingga Taiwan
Shandra Woworuntu (Foto: AFP/File, Karen Bleier)
Jakarta - Shandra Woworuntu (36), sekitar sepuluh tahun yang lalu terjebak dalam perdagangan manusia dan dijadikan budak seks di Amerika Serikat (AS). Dia dijual dari satu mucikari ke mucikari lainnya.

Shandra yang kini menjadi aktivis anti perdagangan manusia membagi kisahnya di forum-forum dunia. Dia berharap agar kasusnya tak terjadi pada perempuan lainnya.

Dilansir AFP, Senin (3/2/2014), perempuan yang pernah bekerja sebagai financial analyst di Indonesia ini menuturkan kerap 'dioper' dari satu kasino dan hotel ke kasino dan hotel lain selama masa perbudakannya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Shandra pernah dipaksa bekerja di kasino dan hotel yang menerima orderan perempuan dari panggilan telepon. Pengalaman itu membekas di benaknya.

"Teleponnya selalu berbunyi," ujar Shandra menceritakan kisahnya di tempat tersebut. Di tempat itu dia dimiliki mucikari wanita yang kerap 'menyuapi' dirinya dengan alkohol dan narkoba. Shandra diperbudak dengan dijerat utang USD 30 ribu, sebagai harga yang harus ditebusnya jika ingin bebas.

Bukan hanya soal tempat, Shandra yang saat itu berusia 25 tahun juga dioper dari satu mucikari ke mucikari lainnya. Dia mengaku pernah diperbudak oleh mucikari asal Malaysia yang dikenal dengan nama Johnnie Wong, juga seorang pria Taiwan yang hanya berbicara bahasa kanton, dan seorang mucikari Amerika.

Selama masa perbudakannya itu juga dia bertemu banyak perempuan lain yang bernasib serupa. Mereka kebanyakan berasal dari luar Amerika, beberapa di antaranya berasal dari Indonesia, sama seperti dirinya. Dia yang tertua dari kumpulan gadis itu. Kebanyakan dari mereka yang diperbudak memang masih remaja, bahkan ada yang diyakini Shandra masih berusia sekitar 12 tahun.

"Aku tidak bisa mengenali bahasa yang digunakan, sampai saat ini aku tak tahu gadis itu dari negara mana," ujarnya.

Shandra tak tahu waktu selama masa perbudakannya. Dia hanya ingat dia datang ke Amerika pada musim semi dan berhasil melarikan diri saat cuaca sudah menjadi lebih dingin pada tahun yang sama.

Shandra kini telah bebas dan memutuskan menjadi aktivis anti perdagangan manusia. Dia tak gentar berbicara di forum-forum dunia membagi kisah pilunya. Dia ingin kisahnya tak terjadi pada gadis lain di belahan dunia mana pun.

(tor/)


Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini