Meski demikian, konflik politik di Thailand belum lah selesai. Dilansir Reuters, Senin (3/2/2014), gelombang unjuk rasa dan protes terhadap pemerintah diyakini tetap akan terjadi hingga beberapa waktu ke depan, paling tidak setelah hasil pemilu diumumkan.
Pemungutan suara dikabarkan terganggu pada sebagian kecil wilayah Thailand. Namun hingga waktu pemungutan suara berakhir pada pukul 15.00 waktu setempat, tak ada laporan adanya kekerasan besar yang terjadi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hasil pemilu akan diumumkan beberapa waktu ke depan. Nah, selama menunggu pengumuman hasil pemilu, gelombang protes menentang pemerintahan Yingluch Shinawatra diyakini akan tetap berlanjut.
Para demonstran bersikeras menuntut Yingluck mundur segera karena pemerintahannya semata-mata dianggap sebagai boneka kakaknya, mantan PM Thaksin Shinawatra.
Sementara laporan dari BBC, para penentang pemerintah di Thailand berhasil menghentikan pemungutan suara di beberapa tempat di ibukota Bangkok dan di kawasan selatan negara itu.
Namun pemerintah mengatakan 89% tempat pemungutan suara beroperasi secara normal dalam pemilihan umum dini yang diboikot partai oposisi utama.
Pihak berwenang mengatakan di sembilan provinsi, yang mayoritas warganya mendukung kubu oposisi, pemungutan suara sama sekali tidak bisa dilaksanakan.
Komisi Pemilihan Umum Thailand mengatakan sembilan wilayah yang tak bisa melakukan pemungutan suara karena terhalang aksi para pengunjuk rasa.
(tor/tor)











































