Seperti dilansir dari AFP, Minggu (26/1/2014), Juru Bicara Kementerian Kesehatan Mesir Ahmed Kamel memberikan keterangan, dari 29 orang yang tewas, sebanyak 26 orang meregang nyawa di sekitar Ibu Kota Mesir, Kairo. Peringatan yang diwarnai unjuk rasa itu juga mengakibatkan 168 orang terluka.
Kerusuhan itu terjadi saat pihak polisi dan massa pro pemerintahan militer Jenderal Abdel Fattah Al Sisi bentrok dengan pendukung Mohamed Morsi. Morsi sendiri telah digulingkan dari kursi kepresidenan pada Juli 2013.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Massa yang berkumpul di alun-alun Tahrir terus meneriakkan yel-yel pro pemerintahan militer. Mereka juga mengusung bendera bergambar Jenderal Sisi.
"Rakyat ingin Ikhwanul dihabisi," kata para demonstran bernyanyi.
Pemerintah dan elite militer mengisyaratkan dukungan massa yang nampak itu merupakan pertanda baik dari pencapresan Sisi yang direncanakan dilaksanakan tahun ini.
Sebelum kerusuhan berdarah ini meletus, Kairo sempat diguncang ledakan bom yang menewaskan enam orang. Ledakan ini diklaim merupakan aksi dari kelompok ekstrim asal Sinai.
Satu jam sebelum kerusuhan peringatan Hosni Mubarak itu, sebuah bom kecil juga meledak di pusat pelatihan polisi di utara Kairo. Ledakan ini menyebabkan seorang terluka. Tak lama berselang, 16 orang terluka karena ledakan bom mobil di dekat markas polisi Suez.
(dnu/ahy)











































