Harga tersebut dibayarkan setiap tahun seperti semacam uang kontrak. Saat itu, Chaudhary terpaksa meninggalkan keluarganya dan tinggal bersama majikannya di lokasi dekat perbatasan India, sejauh 200 km dari rumahnya. Kehidupan keras Chaudhary dimulai pukul 04.00 setiap paginya.
Chaudhary mulai melakukan pekerjaan rutinnya, seperti membersihkan rumah majikannya, mencuci piring, memasak dan kemudian pergi ke rumah kerabat majikannya untuk melakukan hal yang sama. Dia baru bisa istirahat dan tidur sekitar tengah malam, setiap harinya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Saya sangat takut, saya bahkan tidak bisa menangis di depan mereka, saya hanya bisa menangis diam-diam di kamar mandi," terangnya.
Ketika dia bertemu ayahnya sekitar setahun setelah dia dijual, Chaudhary memohon untuk pulang ke rumah. Namun ayahnya yang bekerja sebagai buruh mengatakan dirinya tidak bisa menghidupinya dan juga adik perempuannya, yang juga telah dijual untuk dijadikan budak.
Praktik penjualan anak untuk dijadikan budak semacam ini disebut sebagai tradisi 'kamlari' di Nepal. Banyak anak perempuan, paling muda berusia 6 tahun yang dijual oleh orangtua mereka sendiri untuk dijadikan budak orang lain. Tak jarang, anak-anak ini harus mengalami tindak kekerasan seperti pemukulan dan pencabulan dari majikannya.
Kamlari menjadi tradisi di wilayah Nepal, terutama pada komunitas Tharu. Hal ini berawal ketika warga setempat, terutama komunitas tersebut dilanda wabah malaria yang membuat warganya yang tadinya makmur malah menjadi miskin di wilayahnya sendiri. Banyak keluarga miskin, seperti orangtua Chaudhary yang menjual anak-anak mereka untuk menjadi budak. Meskipun hal ini dilarang oleh hukum sejak tahun 2006, namun tradisi 'kamlari' masih terus dipraktikkan di wilayah Nepal.
Chaudhary bekerja menjadi gadis 'kamlari' selama 3 tahun dan sempat mengalami tindak kekerasan dan pencabulan. Hingga akhirnya para aktivis dari Nepal Youth Foundatioan yang bermarkas di AS membujuk ayah Chaudhary untuk mengakhiri kontrak yang mengikat anaknya. Mereka menawarkan bantuan dan menjanjikan pendidikan untuk anaknya. Hingga pada usia 12 tahun Chaudhary mulai belajar menulis dan membaca.
Kini, Chaudhary masih menyelesaikan kuliahnya pada jurusan bisnis di universitas setempat. Namun luka yang dialaminya saat masih anak-anak terus membekas sehingga dia memutuskan menjadi aktivitis dan advokat bagi anak-anak korban perbudakan.
Advokat setempat dari organisasi Children-Women In Social Service and Human Rights (CWISH), Kamal Guragain memperkirakan ada sedikitnya 1.000 anak korban 'kamlari' yang kini ada di Nepal. Banyak keluarga kaya yang masih memperkerjakan budak anak-anak di rumahnya.
"Kamlari masih terus ada karena para majikannya tidak diadili atau dipenjara, meskipun jelas-jelas mereka melanggar hukum," tutur Guragain kepada AFP.
(nvc/nwk)











































