Seperti yang dilansir oleh The Independent, Rabu (1/1/2014), dalam pesan tahun barunya Kim juga berkomentar tentang perbaikan hubungan dengan Seoul dan peringatan akan kemungkinan adanya bencana nuklir. Komentar-komentarnya ini akan dicermati oleh para analis dan pemerintah untuk mencari petunjuk tentang tujuan dan kebijakan dari negara ini.
Sebelumnya, kekhawatiran akan Korea Utara sudah semakin besar sejak Kim secara terang-terangan mempermalukan dan mengeksekusi mati sang paman yang juga mentornya. Dalam pidatonya yang disiarkan oleh televisi pemerintah, Kim mengatakan bahwa tindakan tegas Korea Utara untuk menghilangkan factionalist filth di dalam Partai Buruh yang berkuasa telah mempersatukan negara tersebut 100 kali lebih kuat. Ia tidak menyebutkan nama pamannya, Jang Song Thaek, yang sudah sejak lama dianggap sebagai orang nomor 2 di negara itu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Makna dibalik eksekusi Jang atas tuduhan pengkhianatan sangat sulit untuk diterjemahkan maupun dianalisis oleh berbagai pihak. Kebanyakan pengamat percaya bahwa pembersihan tersebut menunjukkan bahwa Kim Jong-un sedang berusaha untuk mendirikan kekuasaan absolut yang sama seperti saat ayah dan kakeknya berkuasa.
Pengumuman tumbangnya Jang secara terang-terangan membuka dugaan tentang adanya perebutan kekuasaan antara Kim dan pamannya sejak kematian Kim Jong Il di tahun 2011. Kejatuhan Jang dipandang sebagai pengakuan akan adanya perselisihan dan hilangnya kontrol oleh dinasti Kim yang berkuasa. Secara bersamaan, Kim Jong-un berusaha untuk membangkitkan kembali ekonomi yang hampir mati dan mendorong pengembangan rudal bersenjata nuklir.
(rvk/rvk)











































