Pasca Dua Ledakan Bom Bunuh Diri, Rusia Tingkatkan Keamanan

Pasca Dua Ledakan Bom Bunuh Diri, Rusia Tingkatkan Keamanan

Novi Christiastuti - detikNews
Selasa, 31 Des 2013 11:59 WIB
Pasca Dua Ledakan Bom Bunuh Diri, Rusia Tingkatkan Keamanan
Ilustrasi
Moskow - Presiden Rusia Vladimir Putin memerintahkan peningkatan keamanan di seluruh wilayah Rusia. Hal ini pasca dua ledakan bom bunuh diri yang merenggut banyak korban jiwa di Volgograd.

Seperti dilansir New Straits Times, Selasa (31/12/2013), Komisi Anti-Teror Rusia mengumumkan bahwa Presiden Putin memerintahkan peningkatan keamanan di seluruh wilayah. Ditambah dengan adanya rezim khusus yang diberlakukan di wilayah Volgograd.

Kepala Dinas Keamanan Federal (FSB) Alexander Bortnikov terbang langsung ke Volgograd. Bortnikov memberitahu warga setempat agar memahami penambahan keamanan di lingkungan mereka, termasuk adanya pemeriksaan keamanan terhadap warga.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Ini merupakan langkah yang sangat diperlukan," ucapnya.

Ledakan bom bunuh diri yang terjadi di stasiun Volgograd dan pada sebuah bus di kota yang sama, telah merenggut 31 nyawa. Pelaku bom bunuh diri diketahui seorang wanita dan seorang pria yang tubuhnya sama-sama hancur usai meledakkan diri.

Namun identitas kedua pelaku belum diketahui pasti. Penyidik Rusia masih melakukan penyelidikan mendalam atas kasus ini.

Komisi Penyelidikan Rusia menyatakan bahwa 4 kg bahan peledak digunakan dalam dua ledakan tersebut. Kemudian juga bahan peledak pada kedua insiden dinyatakan identik.

"Ini memastikan teori bahwa kedua serangan saling berkaitan. Bahkan jika mungkin, keduanya dipersiapkan dari lokasi yang sama," terang juru bicara Komisi Investigasi, Vladimir Markin.

Upaya pencarian pihak yang bertanggung jawab atas insiden mematikan ini. Pencarian difokuskan pada wilayah North Caucasus yang selama ini menjadi markas para militan setempat.

Doku Umarov, yang merupakan pemimpin kelompok militan berniat memaksakan negara Islam di wilayah tersebut. Dia dilaporkan memerintahkan anggota untuk menyerang warga sipil di luar wilayah North Caucasus serta menganggu pelaksanan Olimpiade Musim Dingin yang akan digelar di wilayah Sochi dalam waktu dekat.

"Ini tampak seperti gerakan bawah tanah North Caucasus. Mereka berjanji untuk melakukan aksi di kota-kota besar Rusia menjelang Olimpiade. Tampaknya mereka memenuhi janji mereka," ucap pengamat militer setempat, Pavel Felgenhauer.

(nvc/nwk)


Berita Terkait