Ledakan Bom Mobil Guncang Libanon, 5 Orang Tewas Termasuk Penasihat Eks PM

Ledakan Bom Mobil Guncang Libanon, 5 Orang Tewas Termasuk Penasihat Eks PM

Novi Christiastuti - detikNews
Jumat, 27 Des 2013 16:59 WIB
Ledakan Bom Mobil Guncang Libanon, 5 Orang Tewas Termasuk Penasihat Eks PM
Situasi pasca ledakan (Sydney Morning Herald)
Beirut - Ledakan bom mobil berkekuatan besar mengguncang ibukota Beirut, Libanon. Ledakan yang terjadi di dekat kantor Perdana Menteri Libanon ini menewaskan seorang penasihat eks PM Saad Hariri dan empat orang lainnya, serta melukai puluhan orang lainnya.

Rekaman televisi setempat, Future TV, menunjukkan sejumlah orang terbakar hidup-hidup, sedangkan beberapa korban luka lainnya tergeletak di jalanan dan berlumuran darah. Akibat ledakan ini, sejumlah mobil dan gedung yang ada di dekat loaksi ledakan hangus terbakar dan beberapa hancur.

"Lima warga tewas dan lebih dari 50 orang luka-luka, sedangkan 10 gedung rusak cukup parah," demikian seperti dilaporkan kantor berita NNA dan dilansir AFP, Jumat (27/12/2013).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ledakan ini memicu awan hitam tebal di langit. Laporan menyebutkan, ledakan terjadi di dekat gedung Serail, yang merupakan kompleks kantor pemerintahan, temasuk kantor PM Libanon. Lokasi ledakan dekat dengan gedung parlemen, bank, dan restoran setempat.

Kantor berita NNA melaporkan, ledakan ini dipicu oleh sebuah bom mobil. Bom mobil tersebut yang menewaskan Mohammad Chatah, seorang ahli ekonomi yang juga mantan penasihat PM dan mantan utusan Libanon untuk AS serta mantan Menteri Keuangan Libanon. Chatah menjabat sebagai penasihat PM sejak zaman PM Fuad Siniora dan juga PM Saad Hariri.

Dilaporkan, Chatah tewas terkena ledakan saat dalam perjalanan menghadiri rapat koalisi anti-Suriah yang digelar di kediaman Hariri di pusat kota Beirut. Chatah tergabung dengan kelompok yang mendukung oposisi Suriah yang bertekad menggulingkan rezim Presiden Bashar al-Assad.

Belum diketahui kelompok yang mendalangi serangan ini. Namun diketahui satu jam sebelum ledakan terjadi, Chatah sempat menuliskan tweet yang isinya menyalahkan Hizbullah yang mendukung rezim Assad.

"Hizbullah berusaha keras untuk mendapatkan kekuatan yang sama, baik dalam keamanan dan kebijakan luar negeri seperti yang dilakukan Suriah di Libanon selama 15 tahun," tulis Chatah dalam akun Twitter-nya merujuk pada hegemoni Suriah di Libanon, baik dalam militer dan politik yang berakhir pada 2005 lalu.

(nvc/mad)


Berita Terkait