AS Kirim Utusan ke Sudan Selatan yang Dilanda Konflik

AS Kirim Utusan ke Sudan Selatan yang Dilanda Konflik

- detikNews
Sabtu, 21 Des 2013 14:26 WIB
AS Kirim Utusan ke Sudan Selatan yang Dilanda Konflik
Presiden Salva Kiir memberikan keterangan pers (BBC)
Washington, - Situasi di Sudan Selatan menimbulkan kekhawatiran Amerika Serikat dan negara-negara lain. Pemerintah AS pun mengirimkan utusan ke negara yang tengah dilanda konflik tersebut.

Menteri Luar Negeri Amerika Serikat John Kerry mengirimkan utusan khusus ke Sudan Selatan untuk mendorong pembicaraan antara faksi-faksi berseteru di negara paling baru di dunia itu. Perseteruan itu telah menyebabkan pertempuran brutal yang menewaskan banyak warga sipil.

"Sekarang waktunya bagi para pemimpin Sudan Selatan untuk mengendalikan kelompok-kelompok bersenjata di bawah kendali mereka, segera menghentikan serangan-serangan terhadap warga sipil, dan menghentikan rantai kekerasan berbalasan antara kelompok-kelompok politik dan etnis yang berbeda," kata Kerry seperti dilansir kantor berita AFP, Sabtu (21/12/2013).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kerry pun mengirimkan Duta Besar Donald Booth, utusan khusus Kerry untuk Sudan dan Sudan Selatan, pergi ke wilayah konflik tersebut.

Hal ini disampaikan Kerry sehari setelah Presiden AS Barack Obama menyampaikan bahwa AS mengerahkan 45 tentara untuk melindungi personel dan aset-aset AS di Sudan Selatan.

Sementara itu, para menteri Afrika juga terus menekan Presiden Sudan Selatan Salva Kiir untuk memulai dialog dengan mantan wakil presidennya Riek Machar.

Konflik pecah setelah pekan lalu, pertemuan para pemimpin partai berkuasa Sudan People's Liberation Movement (SPLM) gagal untuk menghentikan ketegangan di tubuh partai tersebut. Kiir menuduh Machar, yang dipecatnya pada Juli lalu beserta seluruh menteri, melakukan upaya kudeta. Machar membantah tuduhan itu namun keberadaannya saat ini tidak diketahui.

Pertempuran bukan saja terjadi antara para pengikut Kiir dan Machar, namun juga antara kelompok-kelompok etnis yang berseteru. Selama enam hari terakhir, berbagai pertempuran tersebut telah menewaskan setidaknya 500 orang.

(ita/ita)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads