Sejumlah media lokal memberitakan sejumlah kasus yang menjerat Thamsanqa Dyantyi di masa lalu. Pria yang biasa dipanggil Jantjie ini dijuluki pembohong besar karena pernah dua kali mencoba mendaftar ke sebuah sekolah menengah dan universitas dengan menggunakan rapor palsu.
Media setempat, The Daily Dispatch seperti dilansir Sydney Morning Herald, Sabtu (14/12/2013), berusaha menelusuri latar belakang Jantjie dengan melacak kerabat dan mantan gurunya. Hasilnya, didapat laporan bahwa dia pernah dikeluarkan dari sekolah dasar (SD) tahun 1997 lalu. Tidak hanya itu, Jantjie juga dilaporkan pernah mengaku-ngaku sebagai dokter dan juga guru.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Media lokal lainnya, ENews Channel Africa melaporkan bahwa Jantjie pernah diadili atas kasus pembunuhan pada tahun 2003 lalu. Namun tidak jelas bagaimana kelanjutan kasus tersebut.
ENews Channel Africa juga menyebut bahwa Jantjie pernah dijerat dakwaan pemerkosaan, pencurian, penerobosan rumah dan juga penculikan. Namun banyak dakwaan yang digugurkan pengadilan karena Jantjie dinyatakan tidak layak secara mental untuk menjalani persidangan.
Jantjie dilepaskan dari dakwaan pemerkosaan tapi dinyatakan bersalah atas dakwaan pencurian.
Laporan media lokal tersebut tidak dikonfirmasikan secara langsung kepada Jantjie, sehingga belum bisa dipastikan kebenarannya. Namun Jantjie sempat memberikan pernyataan kepada media lain pada Kamis (12/12) lalu, di mana dia membantah dirinya penerjemah palsu dan dia mengaku dirinya menderita schizophrenia.
Secara terpisah, Menteri Kebudayaan dan Kesenian Afsel, Paul Mashatile menyampaikan permohonan maaf kepada warga Afsel soal kasus ini. "Tanpa bermaksud menghakimi, tidak ada seorangpun yang boleh merendahkan bahasa kita," ucap Mashatile dalam pernyataan resminya.
"Kami secara tulus minta maaf kepada komunitas penyandang tuli dan juga kepada seluruh rakyat Afsel atas setiap hal menyinggung yang mungkin telah ditimbulkan," imbuhnya, sembari menjanjikan bahwa pemerintah memperketat profesi penerjemah bahasa isyarat demi mencegah terulangnya insiden tersebut.
(nvc/gah)










































