Partai Republik mengkritik jabatan tangan Presiden Amerika Serikat Barack Obama dengan pemimpin Kuba Raul Castro di acara mengenang Nelson Mandela. Namun Gedung Putih menanggapi santai kritikan tersebut.
Gedung Putih bersikeras bahwa jabatan tangan itu tidak direncanakan. Sementara situs berita yang dikelola pemerintah Kuba berharap agar jabatan tangan bersejarah itu "bisa menjadi awal dihentikannya agresi AS terhadap Kuba."
Juru bicara Gedung Putih Josh Earnest menganggap jabatan tangan tersebut tidak bermakna signifikan. Dikatakannya, seperti dilansir kantor berita AFP, Kamis (12/12/2013) hal itu hanya bersifat informal.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Jadi tak ada kesempatan bagi Presiden untuk menyampaikan keprihatinannya soal pelanggaran HAM di Kuba," imbuhnya.
Sebelumnya, kubu Republik bereaksi keras atas jabatan tangan Obama dengan Raul Castro yang menggantikan saudaranya yang diktator Kuba, Fidel Castro.
"Itu sama saja memberi propaganda bagi Raul, untuk melanjutkan rezimnya yang brutal dan penuh kediktatoran, itu saja," kritik Senator Republik John McCain.
Menurut McCain, adalah kesalahan besar untuk berjabat tangan dengan orang yang menempatkan rakyat Amerika di dalam penjara. Pernyataan ini merujuk pada penahanan kontraktor AS Alan Gross di penjara Kuba yang sudah berlangsung 4 tahun. Gross ditahan karena mendistribusikan perlengkapan komunikasi untuk warga Yahudi.
"Apa maksudnya?" jawab McCain ketika ditanya apakah Obama memang harus berjabat tangan dengan Raul Castro.
"Neville Chamberlain berjabat tangan dengan Hitler," imbuhnya merujuk pada Perdana Menteri Inggris dan pemimpin Nazi yang bermusuhan namun kemudian berjabat tangan pada tahun 1938 silam menandai Perjanjian Munich.
(ita/ita)











































