Rumah Desmond Tutu Disatroni Perampok Saat Hadiri Acara Mandela

Rumah Desmond Tutu Disatroni Perampok Saat Hadiri Acara Mandela

Novi Christiastuti - detikNews
Kamis, 12 Des 2013 12:32 WIB
Rumah Desmond Tutu Disatroni Perampok Saat Hadiri Acara Mandela
Desmond Tutu (Reuters)
Cape Town - Tokoh perdamaian Afrika Selatan Desmond Tutu dilanda musibah ketika dirinya tengah menghadiri acara mengenang Nelson Mandela. Rumah miliknya yang ada di kota Cape Town disatroni perampok.

"Saya memastikan bahwa, memang telah terjadi perampokan tadi malam," ucap ajudan Tutu, Roger Friedman seperti dilansir AFP, Kamis (12/12/2013).

"Kami tidak bisa memberitahu benda apa saja yang dicuri, uskup dan istrinya sedang tidak ada di rumah. Rumah tersebut tidak dijarah," imbuhnya.

Dalam acara mengenang Mandela yang digelar di Stadion Soweto, Johannesburg, Tutu didaulat menyampaikan pesan terakhir sebagai penghormatan bagi Mandela. Dalam pidatonya, uskup agung yang telah pensiun ini menyerukan kepada rakyat Afsel untuk menjalankan nilai-nilai baik mendiang Mandela.

"Saya ingin menunjukkan kepada dunia bahwa kita di sini merayakan hidup seorang ikon," ucapnya.

Sebenarnya, ini merupakan kedua kalinya dalam lima bulan terakhir, rumah Tutu yang ada di Milnerton, Cape Town disatroni maling. Pada Agustus lalu, pencuri menyusup masuk ke dalam rumah ketika Tutu dan istrinya, Leah sedang tertidur di dalam rumah. Untunglah, suami-istri tersebut tidak mengalami luka sedikitpun.

Tindak perampokan semacam ini cukup sering terjadi di wilayah Afsel, biasanya diwarnai dengan aksi kekerasan terhadap korban. Bagi kalangan menengah ke atas, mereka bisa membangun pagar yang tinggi, dilengkapi aliran listrik dan bahkan tombol panik yang bisa mengerahkan tim keamanan khusus untuk menangani pelaku kejahatan.

Semenjak pensiun dari jabatan uskup agung pada tahun 2010 lalu, Tutu tetap kerap muncul di hadapan publik. Terakhir, Tutu muncul mengkritisi pemerintah Afsel dan mengkritik sikap tidak bertoleransi terhadap kaum gay.

Penerima Nobel Perdamaian ini memainkan peranan penting dalam perjuangan mengakhiri penindasan warga kulit putih di Afsel. Hingga sekarang, Tutu masih dianggap sebagai suara moral Afsel. Meski pernah menjabat sebagai uskup agung, Tutu dikenal sangat humoris.

Dijuluki sebagai 'the Arch', Tutu menyebut sebagian besar hidupnya adalah bonus. Saat masih bayi, Tutu bertahan hidup dari penyakit polio yang biasanya berujung maut. Dia juga berhasil lolos dari penyakit TBC saat remaja dan juga kanker prostat yang dideritanya pada tahun 1997.

(nvc/ita)


Berita Terkait