Saat-saat Terakhir Mandela Dihabiskan Bersama Anak dan Cucunya

Saat-saat Terakhir Mandela Dihabiskan Bersama Anak dan Cucunya

Novi Christiastuti - detikNews
Selasa, 10 Des 2013 15:53 WIB
Saat-saat Terakhir Mandela Dihabiskan Bersama Anak dan Cucunya
Mandela bersama ketiga putrinya dan cucunya (AAP)
Johannesburg -

Putri tertua Nelson Mandela menuturkan bahwa ayahnya menghabiskan masa-masa indah bersama keluarganya sebelum menghembuskan napas terakhir. Mandela meninggal dunia di tengah-tengah keluarganya pada Kamis (5/12) lalu.

Makaziwe Mandel menyebutkan bahwa Mandela dikelilingi oleh anak-anak dan cucu-cucunya, serta istrinya Graca saat ajal menjemput. Mandela meninggal dunia pada usia 95 tahun di kediamannya yang ada di Johannesburg.

"Hingga saat-saat terakhir dia bersama kami. Anak-anaknya ada di sana, cucu-cucunya ada di sana, Graca juga ada di sana, jadi kami selalu berada di sisinya dan bahkan pada saat-saat terakhir, kami terus duduk di sampingnya sepanjang hari Kamis (5/12)," ucap Makaziwe kepada BBC dan dilansir AFP, Selasa (10/12/2013).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Makaziwe menyebut penyakit ayahnya memang sudah diderita sejak lama. Dia menyebut, seminggu sebelum kepergian Mandela merupakan saat-saat terindah.

"Ketika dokter memberitahu kami, saya pikir Kamis (5/12) pagi...bahwa tidak ada hal yang bisa mereka lakukan lagi...itu merupakan hari paling indah bagi kami karena semua cucu, dan kami berada di sana," kenangnya.

Diperkirakan nyaris 100 pemimpin dan tokoh dunia serta sekitar 80 ribu warga Afsel akan berkumpul di stadion Soweto untuk memberikan penghormatan terakhir kepada pria yang kisah hidupnya menjadi inspirasi dunia. Sebanyak 120 ribu orang lainnya akan menyaksikan acara tersebut melalui layar raksasa yang dipasang di tiga stadion terpisah di Johannesburg.

Makaziwe menyadari bahwa ayahnya selalu menjadi sorotan publik. Dalam kondisi seperti ini, mengadakan acara pemakaman secara privat tentu sangat sulit. Pada Minggu (15/12) mendatang, Mandela akan dimakamkan di desa Qunu yang menjadi tempatnya menghabiskan masa kecil.

Lebih lanjut, Makaziwe berharap agar ayahnya juga bisa dikenang atas seruan spiritualnya, selain atas perjuangan politiknya.

"Ayah selalu berbicara bahwa dibutuhkan keberanian untuk memaafkan. Memberi maaf merupakan hal yang sulit. Saya pikir dia tahu jika dia tidak memaafkan, maka selamanya dia akan terpenjara secara spiritual. Pelajaran yang bisa kita ambil dari hidupnya adalah memiliki keberanian untuk memaafkan orang lain," ucapnya.

"Tidak ada dari kami yang dilahirkan saling membenci satu sama lain -- kami belajar membenci dan jika Anda bisa mengajarkan manusia untuk membenci maka Anda juga bisa mengajarkan manusia untuk menyayangi, memeluk dan memaafkan," imbuh Mahaziwe kepada BBC.

Terakhir, Makaziwe mengungkapkan bahwa ayahnya buka tipe orang yang mudah mengungkapkan perasaannya. "Ayah saya sangat kikuk dengan emosinya, orang-orang tidak tahu itu. Dia tidak bisa mengungkapkan emosinya. Ketika membahas tentang perasaan, dia akan berkata 'Tuhan apa yang saya lakukan' dan kemudian diam," tandasnya.

(nvc/ita)


Berita Terkait