Menteri Luar Negeri Singapura, K Shanmugam menuturkan bahwa kedua negara tetangga, yakni Indonesia dan Malaysia sama-sama memahami bahwa Singapura tidak memiliki niat sedikitpun untuk merusak hubungan baik yang selama ini terjalin.
"Anda tidak bisa mengatakan, ini 5 persen benar atau 95 persen benar, bahwa kami bekerja sama dengan Amerika dan Australia dalam aspek pemberantasan terorisme, tapi bukan aspek ini," ucap Menlu Shanmugam seperti dikutip Straits Times dan dilansir AFP, Jumat (29/11/2013).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Intinya, Indonesia dan Malaysia memahami bahwa kami tidak akan melakukan hal apapun untuk mengganggu kedua negara," ucapnya dalam sebuah forum yang digelar Straits Times.
Singapura selama ini terus bekerja sama dengan intens dengan negara-negara tetangganya, mengingat negara ini juga menjadi sasaran terorsime. Saat ditanya apakah isu ini bisa memperburuk hubungan dengan kedua negara yang sama-sama berpenduduk mayoritas muslim, Shanmugam meyakini tidak akan.
"Apa yang kami lakukan diketahui oleh kami semua," tuturnya.
Utusan diplomatik Singapura untuk Malaysia dan Indonesia dipanggil pemerintah kedua negara pasca muncul laporan media Australia bahwa Singapura dan Korea Selatan terlibat jaringan spionase yang dipimpin AS. Laporan tersebut dirilis Sydney Morning Herald berdasarkan dokumen rahasia yang dibocorkan Edward Snowden.
Menurut laporan tersebut, jaringan spionase "Five Eyes" yang terdiri atas AS, Inggris, Australia, Kanada dan Selandia Baru menggunakan bantuan Singapura dan Korsel dalam misi spionase di kawasan Asia, terutama Asia Tenggara. Mereka menyadap kabel jaringan telekomunikasi bawah laut yang dimiliki perusahaan komunikasi terbesar di Asia Tenggara, SingTel. Atas laporan ini, SingTel yang dekat dengan intelijen Singapura, menolak berkomentar.
(nvc/nwk)










































