Demikian menurut Kelompok Riset Oxford, Oxford Research Group (ORG) yang berbasis di London, Inggris seperti dilansir kantor berita AFP, Senin (25/11/2013).
Menurut ORG, total 11.420 anak tewas selama konflik Suriah yang terjadi sejak Maret 2011 lalu. Para bocah tersebut tewas dalam baku tembak, juga karena menjadi target para penembak jitu, dieksekusi mati serta dalam sejumlah kasus lainnya, tewas karena disiksa.
Menurut riset ORG, jumlah anak laki-laki yang tewas lebih besar daripada jumlah anak perempuan yang tewas selama konflik Suriah. Anak laki-laki dalam kelompok usia 13-17 tahun tercatat paling sering menjadi korban pembunuhan ini, termasuk ditembak penembak jitu, terkena bom, dieksekusi mati ataupun dianiaya.
Laporan ORG ini didasarkan pada data-data dari masyarakat sipil Suriah.
"Yang paling merisaukan dari temuan dalam laporan ini adalah bukan hanya tingginya jumlah anak-anak yang tewas dalam konflik ini, namun juga cara mereka tewas," kata salah seorang penulis laporan ini, Hana Salama.
"Dibom di rumah-rumah mereka, di lingkungan mereka, saat aktivitas sehari-hari seperti mengantre makanan atau pergi ke sekolah, tertembak dalam baku tembak, dijadikan target para penembak jitu, dieksekusi mati, bahkan diracun dengan gas dan disiksa," imbuh Salama.
Salama pun menyerukan semua pihak yang bertikai di Suriah untuk bertanggung jawab atas perlindungan anak-anak. Mereka juga diserukan untuk menemukan solusi damai atas perang tak berkesudahan ini.
(ita/nrl)











































