Terungkap jalur alternatif bagi para pencari suaka agar bisa mencapai wilayah Australia tanpa harus menumpang kapal dan berisiko kehilangan nyawa. Dengan membayar biaya hingga US$ 15 ribu atau setara Rp 174 juta, para pencari suaka akan mendapat visa dan langsung terbang ke Australia.
Media setempat, Australian Broadcasting Corporation (ABC) mengungkapkan keberadaan makelar yang menjual paspor dan visa bagi para pencari suaka yang ingin ke Australia. Makelar tersebut ditemui ABC di suatu lokasi di Malaysia.
Sebagai bukti, ABC juga menayangkan rekaman pertemuan antara seorang pria Irak bernama Abu Tarek yang bertindak sebagai makelar dengan seorang pencari suaka yang meminta bantuannya. Dari makelar tersebut, si pencari suaka bisa mendapat visa Australia dengan mudah tanpa mengurus sendiri. Namun tidak dijelaskan lebih lanjut soal keterlibatan pihak kedutaan dalam praktik ilegal ini.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Mereka membawanya langsung dari kedutaan secara lengkap dan Anda bisa terbang dengan nama Anda," imbuhnya.
Kepada ABC, Tarek menuturkan bahwa para pencari suaka yang menggunakan paspor keluaran Bahrain dan Oman telah diterbangkan keluar Malaysia menuju Australia. Menurut Tarek, para pencari suaka tersebut akan segera mengajukan permohonan suaka politik begitu mendarat di bandara Australia.
"Iya, ke Australia, Selandia Baru, banyak orang yang sudah tiba di sana," terangnya.
Lebih lanjut, Tarek juga membeberkan bahwa pihaknya menjual dua jenis visa bagi para pencari suaka, yakni visa liburan dan visa transit untuk penerbangan tujuan Selandia Baru. Dengan metode ini, para pencari suaka diminta untuk menggunakan paspor yang dibelinya dari Tarek dan kemudian merobek dokumen tersebut begitu tiba di Australia.
Laporan investigasi yang dilakukan ABC tersebut juga mengungkapkan adanya sindikat penyelundupan manusia yang dikendalikan dari salah satu penjara di Jakarta, Indonesia. Sindikat tersebut biasa menargetkan orang-orang dari Libanon, terutama yang tinggal di dekat perbatasan Suriah.
Laporan itu menyebut bahwa seorang warga negara Irak bernama Abu Saleh bertindak sebagai pimpinan sindikat tersebut. Abu Saleh disebut-sebut tengah dipenjara karena menusuk seorang pria di kelab malam hingga tewas.
Kapal berisi pencari suaka yang tenggelam di perairan Indonesia pada September lalu dan menewaskan 40 orang, dilaporkan sebagai salah satu kiprah Abu Saleh. Informasi ini didapat ABC dari seorang pencari suaka asal Libanon bernama Abdullah al Qisi yang mengaku dirinya dibawa polisi Indonesia untuk menemui Saleh di dalam penjara.
"Saya menemui Abu Saleh. Dia seperti raja. Dia selalu memiliki enam hingga tujuh telepon genggam dan uang sebanyak US$ 100 ribu di mejanya," ucapnya. ABC tidak memberikan penjelasan lebih lanjut soal laporan ini.
(nvc/ita)











































