Pengadilan Bangladesh menjatuhkan vonis mati terhadap seorang tokoh muslim asal Inggris dan juga seorang pria asal Amerika Serikat atas kejahatan perang. Keduanya mendalangi penculikan dan pembunuhan belasan orang pada perang kemerdekaan tahun 1971 lalu.
Keduanya divonis secara in-absentia karena telah melarikan diri dari Bangladesh sejak beberapa tahun lalu. Chowdhury Mueen-Uddin yang kini ada di London, Inggris dan Ashrafuzzaman Khan dari AS telah dinyatakan bersalah oleh Mahkamah Kejahatan Internasional (ICT) atas 11 dakwaan penculikan dan pembunuhan 18 orang intelek pada masa itu.
"Keadilan belum ditegakkan jika mereka tidak dijatuhi hukuman mati," ujar hakim senior Obaidul Hassan yang memimpin jalanannya persidangan, seperti dilansir AFP, Senin (4/11/2013).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Mereka membunuh profesor ternama, wartawan dan dokter agar tidak satupun orang berbakat yang dimiliki negara ini," terang jaksa senior, M K Rahman kepada wartawan usai sidang.
Keduanya menolak untuk kembali ke Bangladesh untuk menghadiri persidangan. Mereka beralasan bahwa sistem peradilan di Bangladesh tidak kredibel, tidak independen dan tidak netral.
Secara terpisah, Menteri Urusan Hukum Bangladesh, Shafique Ahmed menyatakan, pihaknya tengah bernegosiasi dengan Inggris dan AS untuk memulangkan keduanya. Tapi tidak dijelaskan apakah permintaan ekstradisi telah diajukan secara resmi ke kedua negara tersebut.
"Pemerintah akan berusaha membawa keduanya kembali. Kami terus bernegosiasi dengan negara-negara yang menjadi tempat persembunyian mereka," jelas Shafique kepada AFP.
(nvc/ita)











































