Demikian seperti diungkapkan hasil penelitian pusat studi pertahanan Inggris, IHS Jane's (Information Handling Services) dan dilansir AFP, Senin (16/9/2013). Hasil lengkap penelitian ini akan dirilis kepada publik pada akhir pekan ini.
Disebutkan bahwa, awalnya total ada 100 ribu anggota pasukan pemberontak di Suriah. Namun jumlah ini berkurang seiring berlangsungnya konflik yang diwarnai kekerasan sejak dua tahun lalu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Bedanya dari pelaku jihad, para anggota garis keras tersebut hanya fokus pada konflik Suriah.
"Pemberontakan (di Suriah) sekarang ini didominasi oleh kelompok-kelompok yang setidaknya memiliki sudut pandang militan Islam terhadap konflik tersebut," ujar salah satu peneliti, Charles Lister terhadap surat kabar Inggris, Daily Telegraph.
"Gagasannya adalah sebagian besar kelompok sekuler yang memimpin oposisi tidak akan mampu menanggungnya. Jika negara Barat tampak tidak tertarik melengserkan Assad, kelompok Islam moderat tampaknya akan terdorong oleh para ekstremis," imbuhnya memperingatkan.
Penelitian ini didasarkan pada wawancara terhadap sejumlah militan dan sumber-sumber intelijen yang memahami situasi Suriah.
(nvc/ita)











































