Separuh Pemberontak Suriah Adalah Anggota Kelompok Islam Garis Keras

Separuh Pemberontak Suriah Adalah Anggota Kelompok Islam Garis Keras

Novi Christiastuti - detikNews
Senin, 16 Sep 2013 13:31 WIB
Separuh Pemberontak Suriah Adalah Anggota Kelompok Islam Garis Keras
Ilustrasi
Damaskus - Selama ini kelompok pemberontak di Suriah sangat gencar melawan rezim Presiden Bashar al-Assad, yang disebut-sebut melakukan kekerasan terhadap rakyatnya. Separuh dari anggota kelompok pemberontak tersebut diketahui merupakan para pelaku jihad dan anggota kelompok garis keras Islam yang terkait jaringan militan.

Demikian seperti diungkapkan hasil penelitian pusat studi pertahanan Inggris, IHS Jane's (Information Handling Services) dan dilansir AFP, Senin (16/9/2013). Hasil lengkap penelitian ini akan dirilis kepada publik pada akhir pekan ini.

Disebutkan bahwa, awalnya total ada 100 ribu anggota pasukan pemberontak di Suriah. Namun jumlah ini berkurang seiring berlangsungnya konflik yang diwarnai kekerasan sejak dua tahun lalu.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dalam penelitiannya, IHS Jane's memperkirakan ada sekitar 10 ribu anggota pasukan pemberontak di Suriah yang merupakan pelaku jihad dan terkait jaringan militan seperti Al-Qaeda. Sedangkan sekitar 30 ribu-35 ribu anggota lainnya merupakan anggota kelompok Islam garis keras.

Bedanya dari pelaku jihad, para anggota garis keras tersebut hanya fokus pada konflik Suriah.

"Pemberontakan (di Suriah) sekarang ini didominasi oleh kelompok-kelompok yang setidaknya memiliki sudut pandang militan Islam terhadap konflik tersebut," ujar salah satu peneliti, Charles Lister terhadap surat kabar Inggris, Daily Telegraph.

"Gagasannya adalah sebagian besar kelompok sekuler yang memimpin oposisi tidak akan mampu menanggungnya. Jika negara Barat tampak tidak tertarik melengserkan Assad, kelompok Islam moderat tampaknya akan terdorong oleh para ekstremis," imbuhnya memperingatkan.

Penelitian ini didasarkan pada wawancara terhadap sejumlah militan dan sumber-sumber intelijen yang memahami situasi Suriah.

(nvc/ita)


Berita Terkait