Pemimpin Partai Liberal Australia yang mengakhiri dominasi Partai Buruh selama 6 tahun terakhir di Australia ini, berjanji akan melakukan pendekatan yang stabil namun terus-menerus dalam menangani persoalan yang ada.
"Fokus saya adalah pada tujuan, dengan metode, tenang dan teliti," ucap Abbott kepada Fairfax Radio dan dilansir AFP, Senin (9/9/2013).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Abbott sendiri telah bersumpah untuk memulangkan kapal-kapal pencari suaka ke Indonesia, tempat mereka berasal, semenjak dia menjabat. Namun demikian, dia menyatakan menunggu situasi lebih tenang sebelum menjalankan agendanya tersebut.
Masalah kedua ada pada tubuh parlemen, terutama Senat Australia. Sebab, koalisi Liberal/National yang dipimpin Abbott baru berhasil meraih mayoritas dalam tubuh House of Representative atau semacam DPR.
Sedangkan untuk tubuh Senat belum jelas. Untuk menggalang dominasi dalam Senat, Abbott harus merangkul 7 kandidat dari partai minoritas. Hal ini agar setiap rancangan undang-undang yang diajukan ke Senat berpeluang besar untuk diloloskan.
Masalah-masalah lainnya seperti masalah polusi, pajak pertambahan, pemotongan pajak dan sebagainya. Abbott pernah berjanji akan mengatasi persoalan tersebut satu per satu.
Abbott dijadwalkan akan dilantik secara resmi sebagai PM Australia pada pekan depan. Sejauh ini, pria berusia 55 tahun ini sudah mulai menyusun kabinetnya.
Dia menunjuk politikus senior Julie Bishop sebagai Menteri Luar Negeri, kemudian menunjuk Joe Hockey sebagai Menteri Keuangan. Juga menunjuk Warren Truss yang merupakan pemimpin Partai Nasional Australia sebagai Wakil Perdana Menteri.
Dalam pemilu yang digelar Sabtu (7/9), koalisi Liberal/National yang dipimpin Abbott berhasil mengakhiri kekuasaan Partai Buruh selama 6 tahun terakhir. Menurut Komisi Pemilihan Umum Australia, koalisi Liberal/National memperoleh 88 kursi, sedangkan Partai Buruh memperoleh 57 kursi dari total 150 kursi parlemen.
(nvc/ita)











































