Duduk Bersama Bahas Suriah, Obama dan Putin Gagal Samakan Pendapat

Duduk Bersama Bahas Suriah, Obama dan Putin Gagal Samakan Pendapat

Novi Christiastuti - detikNews
Sabtu, 07 Sep 2013 10:20 WIB
Duduk Bersama Bahas Suriah, Obama dan Putin Gagal Samakan Pendapat
Vladimir Putin dan Barack Obama (AFP)
Saint Petersburg - Presiden Amerika Serikat Barack Obama dan Presiden Rusia Vladimir Putin gagal menyamakan perbedaan pendapat terkait Suriah. Kedua tokoh ini sempat berbicara soal rencana aksi militer ke Suriah, namun tetap berpegang teguh pada pendapat masing-masing.

Obama mengatakan, dunia tidak bisa hanya berpangku tangan melihat serangan kimia di Suriah. Namun Putin memperingatkan bahwa setiap tindakan tanpa mandat PBB jelas-jelas melanggar hukum.

"Kami duduk bersama dan berbicara... percakapan yang konstruktif, bermakna dan penuh keramahan. Kami berdua tetap pada pendapat masing-masing," terang Putin menceritakan percakapannya dengan Obama di sela-sela pertemuan G20 di Saint Petersburg, kepada wartawan setempat.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Percakapan keduanya berlangsung selama 20-30 menit di sela-sela pertemuan tersebut. Demikian seperti dilansir AFP, Sabtu (7/9/2013).

"Ada dialog, kami saling mendengarkan satu sama lain dan memahami argumen masing-masing. Dia (Obama-red) dia tidak setuju dengan argumen saya, saya tidak setuju dengan argumen dia, tapi kami saling mendengar dan kami berusaha menganalisa," jelas Putin lebih lanjut.

Di sisi lain, Obama menyebut percakapannya dengan Putin sebagai sebagai diskusi yang jujur dan konstruktif. "Mencerminkan hubungan saya dengannya (Putin-red)," ucap Obama.

Membahas lebih lanjut soal rencana aksi militer ke Suriah, Putin dengan tegas menyatakan, mayoritas negara G20 berada pada posisi yang sama dengannya, atau dengan kata lain tidak sepakat dengan rencana AS tersebut. Menurutnya, kurang dari 50 persen negara anggota G20 yang mendukung AS. Mereka adalah Turki, Kanada, Arab Saudi dan Prancis.

Sedangkan negara yang menentang antara lain, China, India, Indonesia, Argentina, Brasil, Afrika Selatan, dan Italia. Bahkan, lanjut Putin, kebanyakan rakyat AS tidak mendukung rencana pemerintahnya sendiri. "Mayoritas populasi mereka berada pada pihak kami," tuturnya.

(nvc/gah)


Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads