Dikatakan Ahmad al-Jarba, serangan kimia yang dilancarkan pasukan Suriah telah membantai rakyat sipil pada 21 Agustus lalu.
"Serangan kimia Bashar telah membantai rakyat kami pada 21 Agustus. Dia tak boleh lolos dari hukuman yang pantas diterimanya," cetus pemimpin kelompok oposisi, Free Syrian Army tersebut dalam wawancara dengan harian Prancis, Le Parisien seperti dilansir kantor berita AFP, Kamis (29/8/2013).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Orang ini dan keluarganya harus diadili di Den Haag oleh Mahkamah Kejahatan Internasional," imbuhnya.
Sebelumnya, utusan khusus PBB-Liga Arab untuk Suriah, Lakhdar Brahimi menyatakan, jelas bahwa bahan kimia telah digunakan dalam serangan 21 Agustus tersebut. Namun pelaku penggunaan senjata kimia itu masih dalam penyelidikan.
Dikatakan Jarba, oposisi berharap negara-negara Barat akan melancarkan "serangan hukuman terhadap rezim yang diikuti dengan dukungan militer dan politik bagi FSA."
Menurut Jarba, Assad mendapatkan dukungan dari Rusia, kelompok Hizbullah dan Iran. "Sementara kami kekurangan segalanya. Sekutu-sekutu kami belum memberikan kami apa yang kami minta," cetus Jarba.
Sebelumnya, oposisi Suriah menuding pasukan Assad telah melancarkan serangan kimia ke sejumlah wilayah dekat Damaskus pada 21 Agustus lalu. Menurut oposisi, lebih dari 1.300 orang termasuk anak-anak dan wanita, tewas dalam serangan-serangan tersebut.
Pemerintahan Assad membantah tudingan tersebut dan menyebut para pemberontaklah yang bertanggung jawab atas serangan kimia itu. Tujuannya, untuk mendorong negara-negara Barat melancarkan aksi militer terhadap rezim Suriah.
(ita/nrl)










































