"Jika koalisi terbentuk untuk melawan Suriah dalam proses ini, Turki akan ambil bagian di dalamnya," tegas Menteri Luar Negeri Turki Ahmet Davutoglu dalam wawancara yang dimuat surat kabar Milliyet hari ini dan dilansir kantor berita AFP, Senin (26/8/2013).
Oposisi Suriah menyatakan, lebih dari 1.300 orang tewas ketika gas-gas beracun dilepaskan pasukan Suriah di kota-kota dekat Damaskus pada Rabu, 21 Agustus lalu. Pemerintah Suriah membantah telah menggunakan senjata kimia dalam serangan-serangan ke kota-kota yang dikuasai para pemberontak tersebut. Bahkan rezim Suriah menyalahkan para pemberontak atas serangan kimia itu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Davutoglu mengatakan, negaranya tengah menunggu hasil dari inspeksi PBB tersebut.
"Setelah inspeksi itu, PBB harus membuat keputusan mengenai sanksi-sanksi. Jika tak ada keputusan soal itu, opsi-opsi lainnya akan masuk dalam agenda," tegas pejabat tinggi Turki itu. "36-37 Negara telah mulai membahas opsi-opsi tersebut," tandasnya.
Turki merupakan salah satu negara yang mengkritik keras rezim Presiden Bashar al-Assad atas konflik berkepanjangan di negeri itu. Turki telah berulang kali menyerukan komunitas internasional untuk bertindak atas krisis yang telah menelan banyak korban jiwa itu.
(ita/nrl)











































