Menteri Luar Negeri (Menlu) Prancis Laurent Fabius menyampaikan hal tersebut kepada radio Prancis seperti dilansir kantor berita AFP, Senin (26/8/2013).
Ketika ditanya mengenai kemungkinan adanya reaksi dengan menggunakan kekuatan, Fabius mengatakan, keputusan soal itu belum ada.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Oposisi Suriah menyatakan, lebih dari 1.300 orang tewas ketika gas-gas beracun dilepaskan pasukan Suriah di kota-kota dekat Damaskus pada Rabu, 21 Agustus lalu. Pemerintah Suriah membantah telah menggunakan senjata kimia dalam serangan-serangan ke kota-kota yang dikuasai para pemberontak tersebut.
"Opsi-opsi tetap terbuka. Satu-satunya opsi yang tidak saya bayangkan adalah tak berbuat apapun," cetus Fabius kepada radio Europe 1.
Menurut Fabius, pembantaian dengan senjata kimia telah terjadi dan Presiden Suriah Bashar al-Assad bertanggung jawab atas hal itu. "Reaksi diperlukan, itulah yang tengah kita bahas sekarang... Ada kewajiban untuk bereaksi," tandasnya.
Sebelumnya, sejumlah pejabat-pejabat Amerika Serikat telah mengeluarkan pernyataan-pernyataan yang memicu spekulasi bahwa AS mungkin bakal memerintahkan aksi militer terbatas di Suriah. Atas hal ini, Presiden Assad telah mengingatkan bahwa AS akan mengalami kegagalan jika menyerang Suriah, seperti halnya yang terjadi dalam perang Vietnam.
(ita/nrl)











































