Organisasi HAM yang berbasis di London, Inggris itu juga meminta agar para pakar PBB diizinkan untuk menyelidiki operasi pembersihan para demonstran pro-Morsi tersebut.
Menurut Amnesty seperti dilansir kantor berita AFP, Sabtu (17/8/2013), aparat Mesir telah menggunakan "kekuatan mematikan yang tidak beralasan" dalam pembantaian yang terjadi pada Rabu, 14 Agustus lalu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Luther, aparat Mesir telah menggunakan kekuatan mematikan ketika hal itu tidak begitu diperlukan. "Itu jelas pelanggaran hukum dan standar internasional," tandasnya.
Lebih dari 600 orang tewas ketika aparat polisi Mesir menyerbu kamp-kamp demonstran pro-Morsi di Kairo pada Rabu (14/8) lalu. Para pendukung Morsi telah bertahan di kamp-kamp tersebut selama berminggu-minggu. Operasi pembersihan kamp demonstran ini dilakukan setelah pemerintah Mesir beberapa kali mengeluarkan seruan bagi para demonstran untuk membubarkan diri.
(ita/ita)











































