Pengadilan China Eksekusi Mati Napi Tanpa Kabari Keluarga, Publik Marah

Pengadilan China Eksekusi Mati Napi Tanpa Kabari Keluarga, Publik Marah

- detikNews
Senin, 15 Jul 2013 17:18 WIB
Pengadilan China Eksekusi Mati Napi Tanpa Kabari Keluarga, Publik Marah
Ilustrasi
Beijing - Duh! Pengadilan China mengeksekusi mati seorang narapidana tanpa memberi tahu keluarganya. Tindakan ini memicu kemarahan, tidak hanya keluarga narapidana, tapi juga publik setempat.

Pengusaha bernama Zeng Chengjie dieksekusi mati pada Jumat (12/7) lalu. Zeng dinyatakan bersalah atas kasus penipuan dan penggalangan dana ilegal sebesar 3,4 miliar yuan atau setara Rp 5,5 triliun pada tahun 2011.

Seperti dilansir Asia One, Senin (15/7/2013), putri Zeng memprotes eksekusi mati ayahnya yang dilakukan tanpa sepengetahuan keluarga ini. Melalui akun Sina Weibo, semacam Twitter, putri Zeng mengeluhkan kepada pengadilan di Changsha yang tidak menyampaikan pemberitahuan sebelum eksekusi mati dilaksanakan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pada Sabtu (13/7), pihak pengadilan membalas melalui akun Weibo-nya. "Hukum tidak memiliki aturan tertulis bahwa eksekusi terdakwa harus disaksikan oleh keluarga mereka," demikian jawaban pihak pengadilan yang kemudian menuai kemarahan publik.

Banyak kritikan tajam diarahkan kepada pengadilan di Changsha tersebut. Sebagian besar kritikan dan kecaman yang disampaikan secara online, menyebut respon pihak pengadilan 'sedingin es'.

Menanggapi kritikan yang muncul, pihak pengadilan pun meminta maaf melalui akun Weibo-nya. Dalam pernyataan keduanya, pihak pengadilan menekankan bahwa pengelola akun Weibo-nya tidak memahami hukum dengan baik dan langsung menjawab tanpa berpikir panjang.

Beberapa saat kemudian munculah pernyataan ketiga pihak pengadilan, yang menyebutkan bahwa Zeng sebenarnya sudah ditawari untuk bertemu keluarganya sebelum eksekusi dilaksanakan. Menurut pengadilan, Zeng menolak tawaran tersebut.

"Semua yang mereka lakukan memang sudah seharusnya dikecam," ujar putri Zeng kepada media setempat, Beijing Times.

Sejumlah pengguna Weibo mengkritik praktik penegakan hukum di China. Terutama setelah Presiden Xi Jinping menyerukan peradilan yang lebih kredibel, meskipun jelas-jelas bahwa hukum di China dikuasai oleh otoritas penguasa.

"China benar-benar harus melalui jalan yang sangat panjang, sebelum akhirnya bisa menjalankan penegakan hukum," cetus seorang pengguna Weibo bernama Lin Lvshan.

Tidak jauh berbeda, seorang profesor hukum pada universitas setempat, Xu Xin ikut mengomentari kasus ini. "Pengadilan telah merusak kepercayaan masyarakat terhadap lembaga peradilan," ucapnya.

(nvc/ita)


Berita Terkait