Orangutan betina ini dilaporkan mati pada Kamis (27/6) lalu setelah diselamatkan para aktivis dari sebuah desa di Aceh. Orangutan ini memiliki sejumlah luka di tubuhnya saat ditemukan tim Sumatran Orangutan Conservation Programme.
Direktur Sumatran Orangutan Conservation Programme, Ian Singleton menuturkan, orangutan tersebut ditemukan dengan kondisi bengkak di mata dan sekujur tubuh. Tidak hanya itu, mata orangutan tersebut juga mengalami luka serius dan kulit di bagian bawah rahangnya mengalami pendarahan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Singleton mengaku tak tahu pasti penyebab orangutan tersebut dipukuli. Namun dalam beberapa kasus, orangutan betina sengaja dipukuli ketika anaknya hendak dibawa untuk dijual sebagai peliharaan. Namun dalam kasus ini, tidak ditemukan adanya anak orangutan di dekat loaksi kejadian.
Tindak penganiayaan orangutan juga marak dilakukan oleh para pekerja perkebunan kelapa sawit, yang memang banyak terdapat di Sumatera.
Secara terpisah, kepala konservasi Aceh, Amon Zamora menyatakan, kasus ini tengah diselidiki oleh pihak yang berwenang. "Menangkap orangutan untuk dijual atau dijadikan peliharaan dan menyerang mereka merupakan perbuatan melawan hukum," terang Amon kepada AFP.
Saat ini, hanya tersisa 7.300 orangutan Sumatera yang bebas hidup di dalam liar. Keberadaan orangutan terancam oleh adanya perburuan liar dan praktik penebangan hutan yang menjadi habitat primata ini.
(nvc/nwk)











































