Dalam pernyataan yang dikeluarkan Gedung Putih Amerika Serikat, seperti dilansir Fox News, Selasa (2/7/2013), disebutkan bahwa Obama menelepon langsung Presiden Morsi pada Senin (1/7) waktu setempat.
"Amerika Serikat berkomitmen terhadap proses demokrasi di Mesir dan tidak memihak partai atau kelompok manapun," demikian pernyataan Gedung Putih Amerika Serikat.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Mendorong (Morsi-red) untuk mengambil tindakan dan menunjukkan bahwa dia responsif terhadap tuntutan, dan menekankan bahwa krisis yang terjadi hanya bisa diselesaikan melalui proses politik," imbuh Gedung Putih Amerika Serikat.
Telepon dari Obama ini dilakukan pada hari yang sama dengan ultimatum militer Mesir yang menyatakan hendak melakukan intervensi jika Presiden Morsi tidak memenuhi tuntutan rakyat. Militer Mesir memberikan waktu 48 jam bagi Morsi untuk mempertimbangkan hal tersebut.
Namun hari ini, Morsi langsung menolak ultimatum tersebut. Morsi menegaskan, dirinya akan terus melanjutkan rencana-rencananya untuk melakukan rekonsiliasi nasional.
Unjuk rasa yang berlangsung sejak Minggu (30/6) ini melibatkan jutaan demonstran yang turun ke jalan-jalan di Kairo dan kota-kota Mesir lainnya. Massa menuntut Presiden Morsi lengser dari jabatan yang baru setahun dipegangnya. Morsi dituding lebih memprioritaskan kepentingan Ikhwanul Muslimin daripada kepentingan rakyat banyak.
(nvc/ita)











































