Tudingan itu dilontarkan salah satu media pemerintah China, Global Times dalam editorialnya hari ini seperti dilansir kantor berita AFP, Senin (1/7/2013).
Kerusuhan di Xinjiang pekan lalu menewaskan sedikitnya 35 orang. Otoritas China membantah kerusuhan itu disebabkan oleh ketegangan etnis. Otoritas China menyebut kekerasan itu sebagai ulah kelompok-kelompok teroris. Otoritas pun bertekad akan memberantas kelompok-kelompok tersebut.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selama ini pemerintah Beijing kerap menyebut timbulnya kekerasan di wilayah Xinjiang sebagai terorisme. Hal ini dibantah kelompok-kelompok HAM untuk minoritas muslim Uighur, yang menyalahkan kerusuhan itu pada adanya kesenjangan ekonomi dan penekanan beragama.
Namun pemerintah Beijing membantah melakukan penekanan terhadap etnis minoritas China, yang jumlahnya kurang dari 10 persen dari populasi nasional.
Sekitar 200 orang tewas dalam kerusuhan antara warga Uighur dan Han empat tahun lalu. Dalam beberapa dekade terakhir, banyak warga Han telah dipindahkan ke Xinjiang, wilayah yang kaya akan tambang batu bara dan gas. Friksi antara kedua komunitas itu pun tak terhindarkan.
(ita/nrl)










































