Dalam insiden-insiden yang terjadi pada Minggu, 30 Juni waktu setempat, seorang pengebom bunuh diri menewaskan 28 orang di pos pemeriksaan dekat masjid Syiah di kota Quetta. Kemudian ledakan bom mobil di pinggiran kota Peshawar merenggut 17 nyawa.
Dengan banyaknya korban jiwa tersebut menjadikan hari Minggu itu sebagai hari paling mematikan dalam empat bulan terakhir di Pakistan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Sebanyak 28 orang telah tewas dan lebih dari 51 orang lainnya luka-luka," kata seorang polisi senior setempat, Mir Zubair kepada kantor berita AFP, Senin (1/7/2013). "Sembilan wanita, seorang gadis kecil dan empat anak laki-laki juga tewas dalam serangan itu," imbuhnya kepada para wartawan.
Menurut pejabat provinsi Baluchistan, Akbar Hussain Durrani, pengebom bunuh diri meledakkan dirinya di pos pemeriksaan yang didirikan warga setempat. Jaraknya sekitar 45 meter dari masjid Syiah tersebut.
Quetta merupakan salah satu kota paling berbahaya di Pakistan, yang kerap dilanda kekerasan Taliban serta pemberontakan separatis Baluch dan meningkatnya serangan terhadap komunitas minoritas Syiah.
Sementara di pinggiran Peshawar, sebuah bom mobil menargetkan konvoi aparat keamanan. Menurut Jamil Shah, juru bicara rumah sakit pemerintah Lady Reading di kota tersebut, 17 orang tewas dan 46 lainnya luka-luka dalam insiden itu.
Menurut polisi, sebagian besar korban adalah warga sipil karena bom yang menargetkan konvoi Frontier Corps (FC) tersebut meledak di area pasar yang ramai. Toko-toko dan sejumlah mobil rusak dalam insiden itu. Potongan tubuh manusia, kaca-kaca jendela juga berserakan di lokasi.
Belum ada pihak yang mengklaim bertanggung jawab atas serangan-serangan bom itu. Namun kelompok militan Taliban kerap menargetkan pasukan keamanan Pakistan.
(ita/nrl)











































