Departemen Lingkungan Hidup Malaysia (DOE) menyebutkan, pihaknya dalam kondisi siaga tinggi akibat menurunnya kualitas udara secara drastis dalam waktu 3 hari terakhir. DOE bahkan telah memperingatkan Badan Keamanan Nasional untuk mengaktifkan rencana aksi kabut asap, National Haze Action Plan bagi wilayah yang terdampak paling parah.
Demikian seperti dilansir Asia One, Jumat (21/6/2013).
Tercatat untuk Kamis (20/6), ada empat wilayah di Malaysia yang memasuki level 'berbahaya' dan 'sangat tidak sehat' berdasarkan skala Indeks Polutan Udara (API). Wilayah Muar di Johor masuk level 'berbahaya' dengan level API pada angka 383. Sedangkan di wilayah Pasir Gudang, tercatat level API mendapai angka 333.
Kabut asap juga menyelimuti wilayah Malaka dan Bukit Rambai yang memasuki level 'tidak sehat' dengan level API mencapai angka 137 dan 119. Level API pada angka 51-100 berarti kualitas udara 'moderat', kemudian pada angka 101-200 berarti 'sangat tidak sehat', dan terakhir pada angka di atas 301 berarti 'berbahaya'.
Level API paling buruk di Malaysia tercatat pada tahun 1997 lalu, yakni pada angka 839 yang memaksa dinyatakannya kondisi darurat di wilayah Kuching, Malaysia.
Sementara itu, DOE mencatat, hanya 13 persen wilayah Malaysia yang kualitas udaranya tercatat masih 'bagus' menurut penghitungan API setempat. Sedangkan kualitas udara di 78 persen wilayah lainnya menurun ke level 'moderat'.
Situs DOE pun menunjukkan bahwa 7 persen wilayah Malaysia saat ini berstatus 'tidak sehat' terkait kadar polusi. DOE sendiri telah menghubungi pemerintah Indonesia guna mendesak tindakan tegas dan cepat dalam mengendalikan kebakaran lahan di wilayah Riau, Sumatera.
(nvc/ita)











































