Aparat polisi menggerebek rumah-rumah sekitar 90 anggota Socialist Party of the Oppressed (ESP), partai kecil sayap kiri yang aktif menggelar aksi demo antipemerintah di Taman Gezi, Istanbul. Polisi pun menahan ke-90 orang tersebut.
Stasiun televisi NTV dan CNN-Turk melaporkan seperti dilansir kantor berita AFP, Selasa (18/6/2013), kepolisian juga menggeledah kantor harian Atilim dan kantor berita Etkin, media lokal yang terkait dengan kelompok ESP.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sesuai hukum Turki, mereka yang ditahan bisa diinterogasi selama empat hari sebelum mereka dibawa ke pengadilan untuk didakwa atau dibebaskan.
Otoritas Turki telah bersikap tegas terhadap puluhan ribu demonstran yang telah berunjuk rasa sejak 31 Mei lalu. Aparat polisi telah menggunakan gas air mata, meriam air dan peluru karet untuk membubarkan massa demonstran. Akibatnya, ribuan orang telah terluka dan bahkan, empat orang tewas.
Ketegangan meningkat pada Sabtu, 15 Juni lalu ketika polisi menyerbu Taman Gezi untuk mengusir para demonstran yang terus bertahan di lokasi. Bentrokan pun kembali terjadi.
Krisis Turki diawali dengan aksi para demonstran menduduki Taman Gezi pada 31 Mei untuk memprotes rencana penebangan 600 pohon di taman tersebut. Aksi itu mendapat respons keras dari kepolisian sehingga memicu kemarahan warga di berbagai kota. Aksi demo antipemerintah pun kian meluas.
Bahkan para demonstran pun menuntut pengunduran diri PM Erdogan yang dianggap kian otoriter setelah berkuasa lebih dari 1 dekade. Para demonstran juga memprotes rencana pemerintah untuk membatasi penjualan alkohol.
(ita/nrl)











































