"Kami benar-benar menolak tudingan bahwa kelompok-kelompok AS atau individu bertanggung jawab atau telah meningkatkan aksi protes di Turki," tegas juru bicara Departemen Luar Negeri AS Jen Psaki seperti dilansir kantor berita AFP, Selasa (18/6/2013).
Sejumlah figur di Turki dan media negeri itu menyebutkan bahwa pihak-pihak asing tengah mencoba mengganggu kestabilan negeri itu lewat aksi-aksi demo tersebut.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Begini, kami fokus untuk menyerukan agar tenang, menyerukan untuk menahan diri. Kami tetap sekutu dekat Turki," tandas Psaki.
Krisis Turki diawali dengan aksi para demonstran menduduki Taman Gezi pada 31 Mei untuk memprotes rencana penebangan 600 pohon di taman tersebut. Aksi itu mendapat respons keras dari kepolisian sehingga memicu kemarahan warga di berbagai kota. Aksi demo antipemerintah pun kian meluas.
Bahkan para demonstran pun menuntut pengunduran diri PM Erdogan yang dianggap kian otoriter setelah berkuasa lebih dari 1 dekade. Para demonstran juga memprotes rencana pemerintah untuk membatasi penjualan alkohol.
Menurut Asosiasi Medis Turki, sejauh ini empat orang telah tewas dan hampir 7.500 orang lainnya luka-luka selama aksi demo besar-besaran tersebut.
(ita/nrl)











































