Atas tudingan ini, pemerintah Iran membantah keras. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Abbas Araqchi dengan tegas membantah keterlibatan negaranya dalam demonstrasi besar-besaran di Turki.
"Kami juga tahu soal ini dari media," tutur Araqchi seperti dilansir Press TV, Kamis (6/6/2013).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kami secara resmi telah meminta pemerintah Turki untuk menjelaskan soal ini dan tentang akurasi pemberitaan itu, dan kami telah meminta Turki untuk memberikan kami akses konsuler dengan orang tersebut jika dia memang warga negara Iran," tandas Araqchi.
Sejak Jumat, 31 Mei waktu setempat, para demonstran di Istanbul, Ankara dan kota-kota lainnya melakukan protes terhadap langkah Islamisasi yang dilakukan Perdana Menteri (PM) Turki Recep Tayyip Erdogan. Sebagian demonstran khawatir Turki akan kembali menjadi negara Islam karena baru-baru ini pemerintahnya membatasi penjualan minuman beralkohol.
Para demonstran umumnya kaum muda-mudi dan berasal dari warga kelas menengah perkotaan. PM Erdogan menyebut para pengunjuk rasa tidak demokratis dan terinspirasi oleh partai-partai oposisi.
Dalam aksi demo besar-besaran ini, massa juga menyerukan pengunduran diri Erdogan. Menurut kelompok-kelompok HAM dan para dokter, empat orang telah tewas dan lebih dari 1.000 orang terluka dalam berbagai bentrokan antara polisi dan demonstran. Sekitar 2 ribu demonstran juga telah ditangkap.
(ita/ita)











































