"Serangan terbaru tersebut menunjukkan bagaimana sebuah percikan berubah menjadi kobaran api ketika komunitas internasional tetap diam dan Dewan Keamanan PBB gagal bertindak," cetus Menteri Luar Negeri Turki Ahmet Davutoglu.
Hal itu disampaikan pejabat tinggi Turki itu dalam kunjungan ke Berlin, Jerman seperti dilansir kantor berita AFP, Senin (13/5/2013).
Beberapa pekan terakhir, pemerintah Turki kian gencar melancarkan seruan pengunduran diri Presiden Suriah Bashar al-Assad. Perdana Menteri Turki Recep Tayyip Erdogan bahkan menyebut Assad "penjagal" atas jatuhnya korban jiwa warga sipil Suriah dalam konflik berkepanjangan di negeri itu. Erdogan juga menuding rezim Assad menggunakan senjata kimia dalam memerangi para pemberontak Suriah.
Namun Menteri Pertahanan Jerman Thomas de Maiziere mengatakan, komunitas internasional cuma memiliki opsi-opsi yang terbatas terkait konflik Suriah.
"Intervensi militer akan sangat, sangat mahal dan akan mengakibatkan kerugian signifikan," tuturnya dalam wawancara di stasiun televisi publik Jerman.
Konflik yang berlangsung di Suriah telah terjadi sejak Maret 2011 lalu. Menurut badan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), lebih dari 70 ribu orang telah tewas selama pergolakan tersebut.
(ita/ita)











































