Otoritas Filipina menyebutkan, ada sekitar 20 warga asing beserta pemandu masing-masing yang sedang melakukan pendakian di lereng Gunung Mayon, ketika gunung ini tiba-tiba meletus tanpa peringatan. Petugas penyelamat pun disebar ke sejumlah lokasi untuk mencari korban.
Pemandu wisata setempat, Marti Calleja yang menemui salah satu turis yang berhasil selamat, menceritakan situasi di lereng gunung saat letusan terjadi. Menurut Calleja yang mengutip sang turis asal Austria, asap tebal diwarnai hujan batu terjadi di lereng gunung.
Β
Lebih lanjut, Calleja seperti dilansir AFP, Selasa (7/5) menuturkan, ada 3 orang pemandu asal Filipina dan 4 orang turis asing yang masih mendaki lereng gunung ketika letusan terjadi. Asap tebal yang membumbung tinggi hingga 500 meter, mempersulit upaya pencarian dengan helikopter.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Gunung Mayon yang terletak 330 km dari ibukota Manila ini, memang menjadi daya tarik tersendiri bagi para pendaki maupun turis asing. Para turis asing biasa membayar sebesar US$ 100 untuk satu kali petualangan mendaki gunung setinggi 2.460 meter ini di malam hari.
Otoritas setempat menetapkan zona bahaya permanen di lereng gunung ini, yakni sejauh 6 km dari puncak. Namun terkadang otoritas setempat masih memperbolehkan warga mendaki gunung ini ketika tidak ada tanda-tanda akan meletus.
Gunung Mayon memiliki riwayat letusan mematikan sepanjang sejarah Filipina. Pada tahun 1814 silam, lebih dari 1,200 orang tewas ketika lava gunung api ini menerjang kota Casgawa yang terletak di dekat gunung ini. Kemudian pada Desember 2009 lalu, puluhan ribu penduduk desa terpaksa mengungsi dan kehilangan rumahnya akibat abu dan lava Gunung Mayon.
(nvc/ita)











































