Akibat insiden ini, tweet yang menjadi permasalahan tersebut dihapus dan akun Twitter resmi Kedubes AS di Kairo sempat ditutup. Tweet tersebut berisi link sebuah klip seorang komedian satir terkenal AS, Jon Stewart yang mencela penangkapan seorang pengarang satir asal Mesir, Bassem Youssef.
Youssef yang dijuluki Jon Stewart-nya Mesir kini tengah menghadapi tudingan menghina Presiden Morsi dan menghina Islam. Youssef kini bebas dengan jaminan dan tengah dalam penyelidikan kasus 'mengancam ketertiban publik'.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dalam acara komedi yang ditayangkan pada Senin (1/4) lalu, Stewart menyampaikan monolog yang isinya mengkritik sikap Presiden Morsi yang menindak orang yang berbeda pendapat dengannya. Padahal menurut Stewart, Morsi yang mantan tokoh senior Ikhwanul Muslimin berhasil meraih kekuasaannya melalui revolusi untuk menggulingkan Hosni Mubarak yang merupakan seorang diktator.
Namun ternyata, kantor presiden Mesir menganggap klip tersebut sebagai propaganda negatif yang sengaja disebarkan oleh Kedubes AS melalui akun Twitter-nya. Melalui akun Twitter resmi @EgyPresidency, pemerintah Mesir menyebut tindakan tersebut sangat tidak pantas.
"Sangat tidak pantas bagi misi diplomatik untuk terlibat dalam propaganda politik negatif semacam itu," demikian pernyataan pemerintah Mesir.
Sementara itu, juru bicara Kementerian Luar Negeri AS Victoria Nuland juga ikut mengomentari insiden ini. Menurutnya, kesalahan terkait akun Twitter tersebut telah berhasil diselesaikan. Bahkan akun Twitter @USEmbassyCairo telah diaktifkan kembali pada Rabu (3/4) sore waktu setempat.
Sedangkan staf kedubes AS di Kairo yang bertanggung jawab menangani dan mengatur isi Twitter tersebut tengah dalam peninjauan ulang soal tugasnya. "Bagaimana mereka memutuskan apa yang akan disampaikan dalam Twitter melalui situs kedutaan," ucap Nuland.
(nvc/ita)











































