Konflik Sektarian Kembali Pecah di Myanmar, 10 Orang Tewas

Konflik Sektarian Kembali Pecah di Myanmar, 10 Orang Tewas

Novi Christiastuti - detikNews
Kamis, 21 Mar 2013 16:46 WIB
Konflik Sektarian Kembali Pecah di Myanmar, 10 Orang Tewas
Ilustrasi - sisa konflik berdarah di Rakhine
Yangon - Bentrokan antara penganut Buddha dan Islam kembali terjadi di Myanmar. Korban jiwa pun berjatuhan. Sedikitnya 10 orang tewas dalam kerusuhan ini.

Salah seorang anggota parlemen dari kelompok oposisi National League for Democracy (NLD), Win Htein, menyaksikan langsung dampak hebat bentrokan ini. Htein mengaku, dirinya melihat sejumlah jasad tergeletak begitu saja di lokasi bentrokan di kota Meiktila.

"Lebih dari 10 orang tewas," ujar Win Htein kepada AFP, Kamis (21/3/2013).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurut kepolisian Myanmar, bentrokan ini dipicu oleh pertengkaran di salah satu toko emas setempat yang dimiliki seorang warga muslim pada Rabu (20/3). Adu mulut tersebut beralih menjadi aksi saling serang dan bentrokan hingga melibatkan 200 orang.

Sejauh ini, kepolisian setempat baru bisa memastikan identitas 2 korban tewas dalam bentrokan ini. Salah satu korban tewas merupakan seorang biksu. Beberapa korban juga mengalami luka bakar dalam kerusuhan ini.

Tidak diketahui pasti penyebab pertengkaran yang berujung pada bentrokan tersebut. Namun sejumlah masjid di dekat lokasi kejadian dibakar oleh massa yang terlibat bentrokan.

Pasca bentrokan pertama, otoritas setempat menetapkan jam malam bagi warga. Namun pada Kamsi (21/3) pagi, bentrokan kembali pecah dan memakan korban jiwa lebih banyak. Seorang warga setempat mengaku dirinya melihat banyak mayat bergelimpangan di jalan.

"Situasinya semakin memburuk. Polisi tidak bisa mengendalikan warga. Ada sekelompok orang di jalanan yang bersenjatakan pisau dan tongkat," tutur pria yang enggan disebut namanya ini.

Sementara itu, Win Htein memperkirakan bentrokan ini merupakan imbas dari konflik berdarah di Rakhine, Myanmar barat yang telah menewaskan sedikitnya 180 orang. Terlebih, wilayah Meiktila hanya dihuni sekitar 30 ribu penduduk Muslim dari total 80 ribu penduduknya. Selain itu, kasus semacam ini belum pernah terjadi sebelumnya di Meiktila.

"Saya pikir ini konsekuensi dari apa yang terjadi di wilayah Rakhine tahun lalu," imbuhnya.

(nvc/ita)


Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads