Pemberontak Suriah Dituding Gunakan Senjata Kimia di Aleppo

Pemberontak Suriah Dituding Gunakan Senjata Kimia di Aleppo

Novi Christiastuti - detikNews
Kamis, 21 Mar 2013 15:40 WIB
Pemberontak Suriah Dituding Gunakan Senjata Kimia di Aleppo
Korban senjata kimia di Suriah (AFP/Getty Images)
Damaskus - Pemerintah Suriah menuding kelompok pemberontak mulai menggunakan senjata kimia yang mematikan untuk melawan tentara pro-rezim Presiden Bashar al-Assad. Bahkan dilaporkan penggunaan senjata kimia ini telah menewaskan 25 orang di dekat wilayah Aleppo.

Kementerian Luar Negeri Rusia mengaku, pihaknya mendapat informasi soal penggunaan senjata kimia tersebut. Menurut mereka, kelompok pemberontak yang menamakan diri Free Syrian Army memerangi tentara pemerintah di wilayah Khan al-Assal, Aleppo bagian barat daya, dengan menggunakan gas beracun.

Dalam serangan yang dilancarkan Selasa (19/3) tersebut, banyak korban bergelimpangan akibat susah bernapas dan dari mulut mereka keluar buih. Sebagian besar korban tewas merupakan tentara pemerintah Suriah.

Namun masih menurut Rusia, gas beracun tersebut dirampas dari tentara pemerintah Suriah. Seperti dilansir The Telegraph, Kamis (21/3/2013), Rusia menyatakan, laporan ini dimunculkan ke publik karena adanya kekhawatiran jika senjata kimia ini digunakan terhadap warga sipil di Suriah.

"Kami benar-benar prihatin dengan fakta bahwa senjata pemusnah massal sudah jatuh ke tangan pemberontak, yang dikhawatirkan semakin memperburuk situasi di Suriah dan semakin memperluas konflik yang terjadi di negara tersebut," demikian pernyataan Kementerian Luar Negeri Rusia.

Sementara itu, pemerintah Amerika Serikat (AS) tidak percaya begitu saja jika kelompok pemberontak Suriah menggunakan senjata kimia. AS menyatakan pihaknya masih menyelidiki lebih lanjut tudingan tersebut.

"Kami tidak memiliki bukti untuk memperkuat dugaan bahwa kelompok oposisi telah menggunakan senjata kimia," ujar juru bicara Gedung Putih, Jay Carney, sembari mengingatkan bahwa penggunaan senjata kimia semacam itu bisa memicu intervensi AS di Suriah.

"Kami sangat meragukan jika rezim (Suriah-red) telah kehilangan kredibilitasnya dan kami juga mengingatkan rezim agar tidak menggunakan tudingan semacam ini sebagai dalih atau untuk menutupi penggunaan senjata kimia oleh pihak mereka sendiri," tandasnya.

Terlepas dari itu semua, laporan yang diberikan Rusia ini merupakan laporan paling kredibel yang pernah muncul sepanjang sejarah saling tuding antara pemerintah Suriah dengan kelompok pemberontak soal penggunaan senjata kimia.

Laporan ini muncul hanya selang beberapa jam setelah kelompok oposisi Suriah resmi menunjuk Ghassan Hitto sebagai Perdana Menteri mereka. Hitto dikenal sebagai pelarian dari Suriah yang sempat menjalankan perusahaan IT dan pernah terlibat aktivitas keagamaan di AS.

(nvc/ita)


Berita Terkait