"Apa yang telah terjadi pada kalian pada Selasa (19/3) hanyalah tetesan awal air hujan, dan tahap pertama, sesuai kehendak Tuhan, setelah ini kalian akan melampiaskan dendam kami," demikian pernyataan Islamic State of Iraq yang merupakan jaringan militan Al-Qaeda di Irak dalam situsnya seperti dilansir Reuters, Rabu (20/3/2013).
Sayap Al-Qaeda di Irak ini disebut-sebut tengah menggalang kekuatannya, terutama dipengaruhi oleh pemberontakan umat Sunni di Suriah yang masih berlangsung. Sejak awal tahun ini, mereka terus melancarkan serangkaian serangan terorisme.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selama ini, penganut Sunni menganggap pemerintahan Irak sering menindas minoritas Sunni yang ada di negara tersebut. Oleh karena itu, seringkali militan menargetkan para penganut Syiah sebagai bentuk pembalasan.
Puncaknya pada Selasa (19/3), mulai dari bom mobil hingga bom bunuh diri melanda wilayah-wilayah yang dihuni penganut Syiah di ibukota Baghdad dan sejumlah kota lainnya. Serangan ini menewaskan sedikitnya 60 orang dari sejumlah wilayah di Irak.
Tingkat kekerasan telah melonjak di Irak sejak invasi AS ke negeri itu pada tahun 2003 lalu. Bahkan selama pekan lalu, 87 orang tewas dalam berbagai serangan di Irak. Menurut organisasi Iraq Body Count yang berbasis di Inggris, lebih dari 112 ribu warga sipil telah tewas sejak invasi 2003. Sementara menurut studi yang dirilis The Lancet, jumlah korban jiwa mencapai 116 ribu warga sipil mulai 2003 hingga Desember 2011, ketika pasukan AS ditarik dari Irak.
(nvc/ita)











































