Menlu AS: Konflik Suriah Telah Renggut 90 Ribu Nyawa

Menlu AS: Konflik Suriah Telah Renggut 90 Ribu Nyawa

Novi Christiastuti - detikNews
Jumat, 15 Feb 2013 18:23 WIB
Menlu AS: Konflik Suriah Telah Renggut 90 Ribu Nyawa
Ilustrasi
Washington - Konflik yang melanda Suriah masih terus terjadi dan memakan banyak korban jiwa. Yang terbaru, korban tewas akibat kekerasan di sejumlah wilayah Suriah ini sudah mencapai 90 ribu orang.

Perhitungan ini disampaikan oleh Menteri Luar Negeri Arab Saudi, Pangeran Saud al-Faisal kepada Menteri Luar Negeri Amerika Serikat (AS) John Kerry.

"Saya memiliki kesempatan untuk berbicara dengan Menteri Luar Negeri Arab Saudi. Hal pertama yang dia sampaikan kepada saya adalah perkiraan korban tewas di Suriah yang mencapai 90 ribu orang," ujar Menlu John Kerry kepada wartawan, seperti dilansir AFP, Jumat (15/2/2013).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Perhitungan Saudi ini memang lebih tinggi dari perhitungan yang pernah disampaikan oleh Kepala Dewan HAM PBB Navi Pillay. Menurut versi PBB, korban tewas akibat konflik di negeri yang dipimpin Presiden Bashar al-Assad itu mencapai 70 ribu orang.

Kerry yang baru saja menjabat Menlu AS ini, menyebut kondisi kemanusiaan di Suriah sangat memprihatinkan. Menurut Kerry, isu Suriah ini juga yang menjadi topik pembicaraan utama dirinya dengan Sekjen PBB Ban Ki-moon.

"Saya ingin belajar dari Sekjen tentang bagaimana gagasan beliau untuk mengubah pandangan Presiden Assad, untuk menghentikan pertumpahan darah dan memulai transisi politik secara damai menuju ke demokrasi," kata Kerry.

Besarnya jumlah warga Suriah yang mengungsi ke negara lainnya, menurut Kerry, menjadi beban bagi negara-negara tetangga Suriah. Baik PBB maupun AS memperkirakan lebih dari 750 ribu warga Suriah melarikan diri ke luar negeri. Sedangkan sekitar 2,5 juta warga lainnya kehilangan tempat tinggal.

"Presiden Assad memiliki kemampuan untuk memberikan perbedaan dengan menentukan untuk ikut serta dalam proses diplomatik. Dia harus mengakhiri pembantaian yang terjadi," tandas Kerry.

(nvc/ita)


Berita Terkait