Media Mesir, Al-Ahram, seperti dilansir PressTV, Selasa (5/2/2013), memberitakan pengunduran diri Menteri Saber Arab tersebut. Menurut Al-Ahram, Saber Arab mengundurkan diri pada Senin (4/2) akibat rekaman video yang memancing kemarahan publik itu.
Dalam video tersebut, sejumlah polisi Mesir yang seharusnya mengawal jalannya unjuk rasa, justru terlihat memukuli dan menyeret seorang pria yang telanjang. Diduga, pria tersebut merupakan salah satu demonstran yang menentang pemerintahan Presiden Mohammed Morsi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kantor berita resmi Mesir, MENA juga memberitakan pengunduran diri Menteri Saber Arab dengan mengutip juru bicara pemerintah Mesir. Namun tidak disebutkan lebih lanjut alasan pengunduran diri Saber Arab.
Sementara itu, unjuk rasa yang melanda Kairo terus berlangsung. Bentrokan antara demonstran dengan polisi tak terhindarkan. Bentrokan terbaru terjadi pada Senin (4/2) ketika warga tengah mengawal upacara pemakaman seorang aktivis bernama Mohammed al-Guindi (28), yang tewas setelah dirawat di rumah sakit.
Dokter yang merawat Guindi menyatakan, pria tersebut tewas akibat kerusakan otak dan sejumlah retak tulang pada bagian tubuhnya. Kematian Guindi ini menuai kecaman dari sejumlah organisasi HAM. Beberapa pihak menyebut Guindi sebagai korban kebrutalan polisi.
Dua insiden tersebut di atas, baik rekaman penganiayaan yang dilakukan polisi Mesir maupun kematian Guindi menjadi stigma buruk bagi pemerintahan Presiden Morsi yang kini mendapat cap sama buruknya dengan pemerintahan Hosni Mubarak, pendahulunya. Kebrutalan yang dilakukan polisi dalam menangani para demonstran di Kairo mengingatkan rakyat pada perilaku yang sama yang ditunjukkan polisi Mesir di bawah rezim Mubarak.
Hingga sejauh ini, kekerasan dalam berbagai unjuk rasa di Kairo dan sejumlah wilayah lainnya di Mesir telah merenggut 59 nyawa dan menyebabkan puluhan lainnya luka-luka.
(nvc/ita)











































