Iran: Israel akan Sesali Serangannya ke Suriah

Iran: Israel akan Sesali Serangannya ke Suriah

- detikNews
Selasa, 05 Feb 2013 12:32 WIB
Iran: Israel akan Sesali Serangannya ke Suriah
Jet tempur Israel (AFP)
Teheran - Otoritas Iran kembali berkomentar soal serangan udara Israel ke Suriah yang disebutnya sebagai agresi militer. Iran menyatakan, Israel akan menyesali serangannya ke Suriah karena dunia muslim berada di belakang negara tersebut.

"Sama seperti mereka menyesali seluruh perang yang mereka lakukan... rezim Zionis juga akan menyesali agresinya terhadap Suriah," ujar Kepala Dewan Mahkamah Keamanan Nasional Iran, Saeed Jalili dalam kunjungannya ke Damaskus, Suriah seperti dilansir AFP, Selasa (5/2/2013).

"Seluruh rakyat Suriah dan pemerintahannya sangat serius soal hal ini, dan dunia muslim selalu mendukung Suriah. Suriah berada di baris terdepan dalam konfrontasi dunia muslim terhadap rezim Zionis," imbuhnya merujuk pada Israel.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Israel memastikan bahwa pihaknya memang melancarkan serangan udara ke wilayah Suriah pada 30 Januari lalu. Menteri Pertahanan Israel Ehud Barak menyatakan hal tersebut dalam kunjungannya ke Munich, Jerman pada Minggu (3/2) dalam rangka Konferensi Keamanan Nasional. Menurut Barak, serangan tersebut menjadi bukti bahwa Israel selalu menepati perkataannya.

Menanggapi pernyataan Barak tersebut, Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad menyebut justru serangan tersebut menjadi bukti kelemahan Israel. Menurut Ahmadinejad, Suriah tidak melakukan serangan balasan karena sedang dilanda konflik.

"Kami berharap ada kondisi berbeda yang terjadi di Suriah, sehingga mereka bisa mempertahankan dirinya," ucap Ahmadinejad kepada media Libanon.

Serangan udara yang terjadi 30 Januari lalu mengenai sebuah kompleks militer di dekat ibukota Damaskus yang diyakini menjadi pabrik produksi senjata kimia.

Menteri Pertahanan Suriah Fahd al-Freij menyebut serangan Israel tersebut sebagai balasan atas kesuksesan operasi militernya terhadap para pemberontak di wilayahnya yang disebutnya sebagai 'alat negara Yahudi'.

(nvc/ita)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads