Para demonstran memenuhi jalanan kota Port Said, Ismailiya, dan Suez City sejak Senin (28/1) malam. Padahal terhitung sejak Minggu (27/1), presiden Morsi memberlakukan jam malam mulai pukul 21.00 hingga pukul 06.00 waktu setempat.
Demonstrasi tersebut dengan terang-terangan mengabaikan aturan jam malam tersebut. Para demonstran pun meneriakkan slogan yang melawan pemerintah Mesir.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Salah seorang demonstran di kota Port Said memperjelas maksud aksi warga tersebut. "Kami turun ke jalan karena tidak ada satupun pihak yang mampu memaksakan kehendaknya kepada kami. Kami tidak akan tunduk pada pemerintah," tegas Mahmud Abu al-Majd.
Sedangkan di kota Ismailiya, para demonstran bahkan sengaja menunda acara nonton bola bareng demi ikut serta dalam demonstrasi menentang jam malam tersebut. Televisi nasional setempat melaporkan, ratusan orang di Suez City turun ke jalan untuk berunjuk rasa.
Pada Minggu (27/1) kemarin, Presiden Morsi menyatakan keadaan darurat di tiga kota, yakni Port Said, Suez dan Ismailiya. Keadaan darurat ini akan diberlakukan selama 30 hari ke depan, terhitung semenjak Minggu (27/1) malam.
Dengan adanya penetapan keadaan darurat ini, maka jam malam akan diberlakukan di ketiga provinsi tersebut. Dikatakan Morsi, jam malam berlaku mulai pukul 21.00 waktu setempat hingga pukul 06.00 waktu setempat, setiap harinya.
Keputusan tersebut menindaklanjuti kerusuhan yang terjadi di Mesir sejak Sabtu (26/1) yang dipicu oleh penjatuhan vonis mati terhadap 21 orang terkait kerusuhan pertandingan sepakbola pada tahun lalu. Dalam kerusuhan tersebut, dilaporkan 31 orang tewas dan ratusan lainnya luka-luka.
(nvc/ita)











































