"Sanksi-sanksi berarti perang dan deklarasi perang terhadap kami," demikian disampaikan Komite Korut untuk Reunifikasi Damai Korea seperti dilansir kantor berita Reuters, Sabtu (26/1/2013).
"Jika kelompok boneka pengkhianat tersebut ikut andil langsung dalam sanksi-sanksi PBB, DPRK akan mengambil langkah-langkah fisik untuk menghadapi itu," demikian disampaikan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dewan Keamanan PBB pada Selasa, 22 Januari lalu mengecam peluncuran roket jarak jauh yang dilakukan Korut pada Desember 2012 lalu dan mengeluarkan sanksi-sanksi baru yang lebih ketat terhadap Korut.
Menyusul sanksi baru ini, Korut pun memboikot semua dialog guna membahas program nuklirnya. Negeri komunis itu bahkan bertekad akan kembali melakukan peluncuran roket dan uji coba nuklir.
Pemerintah Amerika Serikat pun menyebut retorika Korut tersebut "mengganggu dan kontraproduktif" bagi perdamaian dan stabilitas di semenanjung Korea.
Juru bicara Departemen Luar Negeri AS, Victoria Nuland bahkan mendesak pemimpin Korut, Kim Jong-un untuk menempuh jalur yang berbeda dan "bukannya terus membuang-buang uang negara untuk teknologi rudal dan lainnya saat rakyatnya kelaparan."
(ita/ita)











































