Ditegaskan pemberontak yang memisahkan diri itu, Gerakan Islam untuk Azawad, pihaknya "menolak semua bentuk ekstremisme dan terorisme dan berkomitmen untuk memerangi hal tersebut."
Ditekankan pula seperti dilansir media Al-Jazeera, Jumat (25/1/2013), kelompok tersebut menginginkan solusi damai untuk krisis Mali.
Ditegaskan bahwa kelompok tersebut seluruhnya terdiri dari warga Mali dan menyerukan Mali dan Prancis untuk menghentikan peperangan di wilayah Kidal dan Menaka guna "menciptakan iklim perdamaian yang akan membuka jalan bagi dialog politik".
Krisis di Mali bermula ketika para pejuang Tuareg kembali melancarkan pemberontakan melawan pemerintah untuk mendirikan negara merdeka di wilayah utara yang mereka sebut Azawad. Untuk itulah mereka beraliansi dengan para pejuang Al-Qaeda.
Aliansi ini membuahkan hasil sehingga mereka berhasil menguasai kota-kota kunci dalam beberapa hari. Namun sejak itu Tuareg disisihkan oleh kelompok-kelompok pejuang lainnya yang ingin merapkan hukum Islam secara ketat di kawasan itu.
Sumber diplomatik Prancis menyatakan, pemerintah Prancis menanggapi serius kabar perpecahan di tubuh para pemberontak Mali.
Prancis mulai melancarkan serangan udara ke Mali sejak 11 Januari lalu untuk mendukung pasukan pemerintah dan Afrika lainnya dalam mengusir para pemberontak di wilayah utara. Pada 24 Januari lalu, serangan jet-jet tempur Prancis berhasil menghancurkan dua markas pemberontak.
(ita/nrl)











































