Mengaku Telah Bunuh Militan Taliban, Pangeran Harry Menuai Kontroversi

Mengaku Telah Bunuh Militan Taliban, Pangeran Harry Menuai Kontroversi

Rita Uli Hutapea - detikNews
Rabu, 23 Jan 2013 18:37 WIB
Mengaku Telah Bunuh Militan Taliban, Pangeran Harry Menuai Kontroversi
Pangeran Harry (AFP)
London, - Pangeran Harry dari Inggris telah menyelesaikan tugas militernya di Afghanistan. Adik Pangeran William itu pun mengaku telah membunuh militan-militan Taliban semasa penempatannya di negara konflik tersebut. Pernyataan Harry ini menjadi bahan pemberitaan media Inggris dan menuai pro dan kontra.

Dalam sidang parlemen seperti diberitakan Telegraph, Rabu (23/1/2013), Menteri Pertahanan Inggris Mark Francois memuji Harry. Menurutnya, sang Pangeran harus dipuji atas keberaniannya.

"Dia telah berbuat baik untuk negaranya," kata Francois mengenai Harry yang beberapa kali telah mempermalukan keluarga kerajaan Inggris. Yang terbaru adalah saat foto-foto Harry sedang bugil di sebuah hotel di Las Vegas, Amerika Serikat muncul di media.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Namun tak semua orang memuji Harry. Menurut Lindsey German, pemimpin organisasi Stop the War Coalition, kata-kata Harry tersebut "arogan dan tidak peka". Hal tersebut, menurutnya, memperbesar kemungkinan Harry secara tak sengaja menargetkan warga sipil Afghanistan.

Selama 20 pekan, Pangeran Inggris berumur 28 tahun itu ditempatkan di pangkalan militer Kamp Bastion di Provinsi Helmand, Afghanistan selatan. Sebagai pilot helikopter tempur Apache, Harry mengaku telah membunuh militan-militan Taliban.

"Ya, kami menembak saat kami harus melakukannya, menghabisi nyawa untuk menyelamatkan nyawa lainnya," ujar Harry ketika ditanyai wartawan apakah dia telah membunuh para militan.

"Jika ada orang-orang yang mencoba melakukan hal-hal buruk pada orang-orang kami, maka kami akan menghabisi mereka," ujar putra kedua Pangeran Charles dan mendiang Putri Diana itu dalam salah satu wawancara dengan media, sebelum kepulangannya ke Inggris.

Tugas militer Harry di Afghanistan berakhir pada 21 Januari waktu setempat. Sebelumnya, kelompok militan Taliban telah mengancam akan melakukan segala upaya untuk menculik atau membunuh Harry selama bertugas di Afghanistan.

(ita/nrl)


Berita Terkait