Seorang pekerja Aljazair bernama Chabene menceritakan, para militan bersenjata menggunakan taktik brutal namun efektif dalam membujuk para pekerja asing untuk keluar dari tempat persembunyian mereka. Para militan itu mengancam seorang pria Inggris untuk memanggil teman-temannya dalam bahasa Inggris.
"Keluarlah, mereka tak akan membunuh kalian. Mereka mencari warga Amerika," kata Chabene menirukan ucapan pria Inggris yang diancam para militan itu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Para pekerja lainnya yang selamat mengungkapkan bagaimana tubuh mereka dipasangi bahan peledak saat aksi penyanderaan berlangsung. "Mereka mengumpulkan semua ekspatriat, membuat mereka mengenakan bahan peledak di sekeliling leher mereka sembari berdiri dalam lingkaran," ujar seorang pekerja Aljazair yang selamat.
Dikatakannya, para pekerja Aljazair ditempatkan terpisah dan diperlakukan dengan baik sampai akhirnya diizinkan pergi.
"Saya dibolehkan pergi, tapi sebelum itu saya melihat banyak orang Inggris dibunuh," tuturnya. "Seorang warga Barat yang mencoba memberikan pertolongan pertama juga diledakkan oleh para teroris," imbuhnya.
Menurut Iba El Haza, seorang warga Aljazair yang menjadi sopir di perusahaan gas ternama Inggris, British Petroleum (BP), para militan bersenjatakan senapan AK-47, senjata mesin dan granat berpeluncur roket. Mereka juga cuma mengincar para pekerja asing.
"Para teroris bilang, Anda tak ada kaitan dengan ini, Anda warga Aljazair dan muslim. Kami tak akan menahan Anda, kami cuma menginginkan warga asing," kata Haza menirukan ucapan para militan. Pria Aljazair itu berhasil selamat saat operasi pembebasan yang dilakukan pasukan khusus Aljazair pada Kamis, 17 Januari lalu.
Menurut pemerintah Aljazair, total jumlah sandera, baik lokal maupun asing, yang tewas di tangan militan sedikitnya mencapai 48 orang. Sementara 32 militan juga tewas dalam operasi yang dilancarkan pasukan khusus Aljazair.
(ita/nrl)










































