Namun tim khusus ini baru diterapkan di distrik Thane, dekat Mumbai, India. Sejak kasus pemerkosaan mahasiswi India pada Desember 2012 lalu yang menarik perhatian dunia, setiap tim yang terdiri atas 10-15 polisi berpakaian preman ini akan berpatroli dan menyisir sejumlah lokasi dan jalanan di wilayah tersebut.
Namun sayangnya, tim ini tidak secara khusus menargetkan para pelaku kekerasan atau pelecehan seksual. Melainkan lebih sering memergoki pasangan muda yang keluar tengah malam dan mendenda mereka.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ketika kami menangkap mereka, kami memberitahu mereka untuk tidak datang lagi ke tempat tersebut atau memicu keributan di tempat umum," imbuhnya.
Menurut Mahire, setiap pasangan muda yang kepergok melakukan perbuatan asusila akan dikenai denda 1.200 rupee atau setara Rp 210 ribu. Kemudian juga, polisi akan menelepon orangtua muda-mudi tersebut. Mahire menambahkan, pasca peluncuran tim tersebut, jalanan distrik Thane cenderung sepi saat malam hari.
Surat kabar setempat, Times of India melaporkan bahwa sejauh ini tim ini telah berhasil membekuk 95 orang yang kemudian dikenai pasal memicu keributan umum berdasar aturan setempat. Saat dikonfirmasikan ke Mahire, dia mengaku tak hapal jumlahnya.
"Yang jelas, jika seorang hadis terlihat berjalan sendirian di tempat gelap pada tengah malam, kemungkinan besar ada pemuda yang akan mendekatinya. Ini semua demi keamanan mereka," jelas Mahire.
Secara terpisah, Komisioner Kepolisian Thane K.P. Raghuvanshi menegaskan, peluncuran tim ini bertujuan awal untuk melindungi wanita dari tindak kekerasan atau pelecehan seksual.
"Jika ada polisi yang ketahuan melakukan penyimpangan dalam penegakan hukum, maka kami dengan segera akan menindaknya dan memberikan hukuman tegas kepadanya," tegasnya kepada Times of India.
(nvc/nrl)











































