"Untuk sekarang, kita memiliki 750 tentara dan jumlahnya akan bertambah... jadi diharapkan sesegera mungkin, kita bisa memasrahkan semuanya ke pasukan gabungan Afrika," ujar Presiden Hollande saat berkunjung ke kamp pasukan perdamaian di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab, seperti dilansir AFP, Selasa (15/1/2013).
"Prancis akan terus melanjutkan serangan udara maupun serangan darat. Serangan baru semalam berhasil mencapai target," imbuhnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Oleh karena itu, sembari menunggu kedatangan pasukan gabungan Afrika, militer Prancis tetap bersiaga di Mali. Menurut Holland, ratusan tentara dan 6 jet tempur Rafale disiagakan untuk membantu militer Mali memerangi separatis.
"Mali memang masih belum menjadi 'wilayah' kita sekarang ... tapi jika kami menerima perintah, kami akan segera melakukannya," ucap salah seorang pejabat yang mendampingi Hollande dalam kunjungan sehari tersebut.
Presiden Hollande terbang ke Uni Emirat Arab pada Selasa (15/1) pagi waktu setempat untuk bertemu dengan Presiden Mauritania Mohamed Ould Abdel Aziz. Mauritania yang merupakan negara tetangga Mali di sebelah barat, telah memerintahkan tentaranya untuk menutup wilayah perbatasan demi mencegah kaburnya para anggota separatis Mali ke wilayah mereka.
Selain itu, Hollande juga dijadwalkan bertemu dengan sejumlah pejabat senior di Dubai dan Abu Dhabi.
(nvc/ita)











































