Jasad polisi India tersebut merupakan salah satu dari 10 polisi yang tewas dalam bentrokan dengan pemberontak pada Senin (7/1) lalu. Keberadaan bom ini ditemukan oleh tim dokter yang melakukan pemeriksaan post-mortem terhadap jasad polisi tersebut. Dokter mencurigai adanya bekas jahitan di perut jasad tersebut. Setelah jahitan dibongkar, ditemukan keberadaan bom tersebut.
"Kami tidak siap menghadapi situasi ini karena kami tidak pernah terpikir ada hal semacam ini," ujar polisi senior dari Kepolisian Jharkhand, SN Pradhan, seperti dilansir news.com.au, Jumat (11/1/2013).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Para dokter terkejut melihat organ vital seperti usus dan limpa dikeluarkan demi membuat rongga untuk menempatkan bom seberat 1,5 kg tersebut. Naxal (sebutan untuk pemberontak) melakukan jahitan vertikal dengan sangat rapi," terang pejabat kepolisian setempat kepada Press Trust of India.
Menanggapi hal ini, Menteri Dalam Negeri India Sushilkumar Shinde menyatakan, pemerintah semakin waspada. Cara ini, menurut Sushilkumar, merupakan taktik paling baru dari kelompok pemberontak untuk menimbulkan teror.
"Sebuah IED (improvised explosive device) ditemukan di dalam perut manusia. Berhasil ditemukan dan dijinakkan. Mereka terus saja melakukan taktik baru. Kami telah memberikan instruksi kepada aparat dan situasi di bawah kendali," ucapnya dalam konferensi pers.
Pemberontak Maois merupakan sebutan bagi anggota Partai Komunis di India. Mereka disebut oleh pemerintah India sebagai ancaman nasional paling serius. Kelompok ini memegang kendali atas wilayah timur dan tengah India dan sering menggalang dana melalui pemerasan dan aksi premanisme.
Selama ini, pemerontak Maois selalu berkoar-koar bahwa mereka memperjuangkan hak para petani miskin dan buruh. Anggota kelompok ini menyebar di sekitar 20 negara bagian dari total 28 negara bagian di India.
(nvc/nrl)











































